Uni Emirat Arab (UEA) sempat menyatakan akan turun langsung bergabung dengan koalisi menggempur Iran, demi mengamankan selat Hormuz. Hal ini disampaikan oleh seorang diplomat UEA, dalam wawancara dengan Wall Street Journal, yang terbit pada Rabu (1/4).
"UEA tengah melobi Dewan Keamanan (DK) PBB untuk meloloskan rencana aksi tersebut. Diplomat-diplomat UEA menyampaikan ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa untuk membuka Selat Hormuz secara paksa," tulis Wall Street Journal, dikutip Kamis (2/4).
UEA sempat mendapat serangan berulang dari Iran, baik itu rudal maupun drone kamikaze sejak 28 Februari 2026. Ada ribuan drone dan ratusan rudal balistik menyasar UEA.
"Sejak pecah konflik AS, Israel vs Iran, sudah ada 2.o12 drone, 19 rudal jelajah, dan 438 rudal balistik ditembakkan ke UEA," kata Kemlu UEA dikutip dari akun X resminya.
Sementara itu, 35 drone dan 5 rudal balistik dicegat oleh sistem pertahanan UEA.
Pemerintah UEA menyebut, ada 11 orang tewas termasuk dua orang tentara tewas, dilansir reuters.
Sementara itu akibat konflik ini, arus perdagangan UEA juga terdampak akibat masih tingginya eskalasi di kawasan. Sebab, negara ini berada tepat di tepi Selat Hormuz.
UEA BantahKementerian Luar Negeri UEA belum membenarkan hal tersebut. Namun, laporan dari kantor berita Turki, Anadolu, UEA telah membantah keinginan mereka untuk terlibat dalam perang.
"Beberapa laporan media tentang posisi UEA itu kurang tepat. UEA masih dalam posisi bertahan, fokus pada pertahanan kedaulatan, rakyat, infrastruktur, serta hak untuk membela diri pada serangan-serangan yang tidak diprovokasi," kata seorang pejabat UEA kepada NBC, via Anadolu.





