Teheran (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran, Rabu (1/4), membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut Iran sedang mengupayakan gencatan senjata dan menyatakan klaim itu "palsu dan tidak berdasar".
Menurut laporan media pemerintah Iran, Press TV, juru bicara Kemenlu Iran Esmaeil Baghaei membantah pernyataan Trump yang diunggah pada akun media sosial Truth Social itu. Di sana, Trump mengeklaim presiden Iran "baru saja meminta gencatan senjata kepada AS".
"Kami akan mempertimbangkan hal tersebut ketika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan aman. Sampai saat itu tiba, kami akan terus menghancurkan Iran hingga musnah atau, seperti yang mereka bilang, kembali ke Zaman Batu!," kata Trump.
Seyyed Mehdi Tabatabaei, deputi bidang komunikasi di kantor kepresidenan Iran, juga membantah klaim Trump dalam sebuah unggahan di media sosial X.
"Sikap Iran terkait pertahanan patriotik untuk keutuhan negara ini melawan agresi kekuatan jahat, serta prasyarat untuk mengakhiri perang yang dipaksakan ini sama sekali tidak berubah, dan tidak menghiraukan delusi serta kebohongan para penjahat. Bangsa Iran, yang teguh, gigih, dan bersatu, mempertahankan keutuhan tanah airnya," ujar Tabatabaei.
Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota lainnya di Iran pada 28 Februari lalu, menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset-aset AS di Timur Tengah, sembari memperketat kendali atas Selat Hormuz dengan membatasi akses bagi kapal-kapal milik atau yang terafiliasi dengan Israel dan AS.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump berulang kali mengeklaim Iran mengupayakan negosiasi untuk mengakhiri perang.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengakui adanya pertukaran pesan antara Iran dan AS melalui perantara dalam beberapa hari terakhir, tetapi dia menekankan tidak ada negosiasi yang dilakukan.
Menurut laporan media pemerintah Iran, Press TV, juru bicara Kemenlu Iran Esmaeil Baghaei membantah pernyataan Trump yang diunggah pada akun media sosial Truth Social itu. Di sana, Trump mengeklaim presiden Iran "baru saja meminta gencatan senjata kepada AS".
"Kami akan mempertimbangkan hal tersebut ketika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan aman. Sampai saat itu tiba, kami akan terus menghancurkan Iran hingga musnah atau, seperti yang mereka bilang, kembali ke Zaman Batu!," kata Trump.
Seyyed Mehdi Tabatabaei, deputi bidang komunikasi di kantor kepresidenan Iran, juga membantah klaim Trump dalam sebuah unggahan di media sosial X.
"Sikap Iran terkait pertahanan patriotik untuk keutuhan negara ini melawan agresi kekuatan jahat, serta prasyarat untuk mengakhiri perang yang dipaksakan ini sama sekali tidak berubah, dan tidak menghiraukan delusi serta kebohongan para penjahat. Bangsa Iran, yang teguh, gigih, dan bersatu, mempertahankan keutuhan tanah airnya," ujar Tabatabaei.
Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota lainnya di Iran pada 28 Februari lalu, menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset-aset AS di Timur Tengah, sembari memperketat kendali atas Selat Hormuz dengan membatasi akses bagi kapal-kapal milik atau yang terafiliasi dengan Israel dan AS.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump berulang kali mengeklaim Iran mengupayakan negosiasi untuk mengakhiri perang.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengakui adanya pertukaran pesan antara Iran dan AS melalui perantara dalam beberapa hari terakhir, tetapi dia menekankan tidak ada negosiasi yang dilakukan.





