REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna menilai pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) merupakan pilihan yang tepat untuk membangun kemandirian energi.
“Di banyak negara lain, penggunaan kendaraan listrik selalu menjadi prioritas karena memang itu adalah jalan yang paling efisien,” ujar Putra dari Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga
Krisis Energi Picu Lonjakan Minat pada Kendaraan Listrik di Asia-Pasifik
Hemat Energi, Listrik Gedung Nusantara DPR Dipadamkan Mulai Sore Hari
Pengamat: Peningkatan TKDN Kunci Hilirisasi Mineral di Industri Kendaraan Listrik
Baik dalam penggunaan energi maupun dari sisi biaya, lanjut dia, kendaraan listrik membutuhkan biaya operasional yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan biofuel, seperti biodiesel maupun bioetanol. Ia pun mengakui, yang saat ini menjadi tantangan bagi pemerintah adalah penyediaan infrastruktur penunjangnya.
Selain itu, pemerintah juga harus memastikan terjadi pembangunan industri kendaraan listrik di dalam negeri, sehingga Indonesia tidak hanya mengimpor kendaraan listrik dari China. “Tetapi ini (membangun industri EV) adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh Indonesia, terutama sebagai negara dengan populasi besar,” ucap Putra.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dalam kesempatan itu, Putra menyampaikan biaya biofuel lebih mahal apabila dibandingkan dengan bahan bakar minyak (BBM) berbasis fosil.
Sementara itu, tuturnya, biodiesel masih bisa ditopang oleh keberadaan perusahaan sawit yang cukup besar untuk dikutip dengan biaya ekspor dari kelapa sawit. Selain itu, Putra juga mengingatkan pentingnya melihat konsekuensi lingkungan dari ekspansi kebun sawit untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan biodiesel.
“Setiap ekspansi dari biodiesel akan memiliki konsekuensi lingkungan,” kata Putra.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meminta perguruan tinggi untuk melakukan kajian secara cepat guna menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM), kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.
Terkait fokus dari upaya efisiensi bahan bakar tersebut, beberapa subjek yang menjadi perhatian termasuk mendorong elektrifikasi kendaraan untuk mengurangi impor BBM. Selain itu, tuturnya, masih terdapat penggunaan yang besar pada beragam pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Untuk itu, didorong menggantinya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).