Jakarta, CNBC Indonesia - Kepadatan lalu lintas selama arus mudik menjadi sorotan, terutama di ruas Jalan Layang Mohammed Bin Zayed (MBZ) dan jalur Trans Jawa. Pemerintah mengakui salah satu titik krusial kemacetan berada di kawasan rest area yang kapasitasnya belum memadai saat lonjakan kendaraan terjadi.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dody Hanggodo mengatakan, rest area Km 57 dan Km 62 akan menjadi fokus penanganan dalam waktu dekat. Evaluasi akan dilakukan bersama operator jalan tol untuk menentukan langkah perbaikan yang paling efektif.
"57 dan 62 itu nanti Jasa Marga akan membentuk tim atau konsultan untuk bagaimana kemudian rest area itu harus direnovasi atau direstrukturisasi atau bahkan diperlebar agar kemudian masalah-masalah kemacetan di dua titik ini bisa diselesaikan sebelum libur Nataru 2026," ujar Dody.
Meskipun pengelolaan rest area melibatkan pihak swasta, koordinasi tetap dilakukan secara intensif dengan pemerintah dan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kualitas rest area di sepanjang tol Trans Jawa. Rest area tipe B diupayakan naik kelas menjadi tipe A guna menambah kapasitas layanan bagi pengguna jalan.
- Jelang Batas Akhir, 9,6 Juta Wajib Pajak Telah Lapor SPT di Coretax
- Kesalnya Pengusaha, "Hotel" Ilegal Merajalela-Cuan Lebaran Tak Terasa
- InJourney Catat Trafik Penumpang Naik 6,4% Selama Periode Lebaran 2026
"Memang kita sedang berusaha agar rest area tipe B itu bisa naik ke tipe A sehingga kapasitasnya bisa nambah. Tapi tantangannya, kebutuhan tinggi itu hanya saat musim liburan, jadi investor masih ragu," jelasnya.
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah telah mengoperasikan rest area fungsional untuk mengurai kepadatan saat puncak arus mudik dan balik.
"Kemarin kita membuat sekitar 15 rest area fungsional, walaupun memang masih kurang. Ke depan kita akan tambah lagi sambil mendorong swasta untuk meningkatkan kapasitas rest area yang ada," tambahnya.
Di sisi lain, PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat waktu tempuh kendaraan selama periode mudik masih dalam rentang terkendali berdasarkan data operasional. Direktur Operasi Jasa Marga, Fitri Wiyanti, memaparkan hasil pemantauan di sejumlah segmen utama.
"Data kami menunjukkan waktu tempuh dari Cawang sampai Banyumanik pada puncak arus mudik mencapai 5 jam 46 menit dalam periode pengamatan dari pukul 06.00 sampai 18.00. Sementara saat arus balik H+3 tercatat 5 jam 12 menit," ujar Fitri.
Pengukuran juga dilakukan menggunakan data transaksi kartu tol yang memberikan gambaran lebih luas terhadap pola perjalanan pengguna jalan.
"Rata-rata perjalanan berdasarkan data tap in di Cikampek dan tap out di Kalikangkung itu 7,4 jam dengan median 6,6 jam. Data ini saling mendukung dengan hasil pemantauan lainnya," jelasnya.
Untuk ruas MBZ, kepadatan tertinggi terjadi pada dini hari. Meski demikian, waktu tempuh masih berada di bawah tiga jam untuk keseluruhan segmen yang diamati.
"Untuk MBZ, waktu tempuh paling padat di jam 00.00 sampai 06.00 pagi adalah 2 jam 56 menit. Rinciannya, dari Cikunir sampai TIP 57 sekitar 2 jam 42 menit, dan dari TIP 57 ke Cikampek 14 menit," kata Fitri.
(dem/dem) Add as a preferred
source on Google




