Bisnis.com, JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat jumlah penumpang layanan kereta api bersubsidi melalui skema public service obligation (PSO) dan subsidi mencapai 113,16 juta orang hingga Maret 2026.
Wakil Direktur Utama KAI, Dody Budiawan menyampaikan realisasi penumpang kereta api PSO tersebut setara 103,46% dari target yang ditetapkan sebesar 109,37 juta penumpang.
"Volume penumpang PSO hingga Maret 2026 tumbuh 7,83% dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar 104,94 juta orang," ujar Dody dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR pada Kamis (2/4/2026).
Secara rinci, jumlah penumpang PSO KRL Jabodetabek mencapai 87 juta orang hingga Maret 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 82,11 juta penumpang.
Selanjutnya, penumpang PSO kereta api jarak dekat tercatat 11,37 juta orang. Adapun penumpang kereta api jarak jauh mencapai 1,09 juta orang dan kereta api jarak sedang sebanyak 1,8 juta orang.
Sementara itu, penumpang PSO KRL Yogyakarta tercatat 2,02 juta orang, diikuti kereta rel diesel sebanyak 2,09 juta penumpang, serta layanan subsidi LRT Jabodebek yang mencapai 7,75 juta orang.
Lebih lanjut, Dody menyampaikan bahwa anggaran PSO dan subsidi yang diterima PT KAI menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir, periode 2023 hingga 2025.
"Jadi secara total yang kami terima PSO dan subsidi 2023 sebesar Rp2,71 triliun, 2024 sebanyak Rp4,01 triliun, dan 2025 sebesar Rp4,63 triliun," jelasnya.
Kenaikan jumlah penumpang tersebut menunjukkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap layanan transportasi publik bersubsidi, khususnya pada kawasan aglomerasi dengan mobilitas komuter yang padat seperti Jabodetabek dan wilayah perkotaan lainnya.
Selain itu, peningkatan alokasi PSO dan subsidi juga dinilai penting untuk menjaga keterjangkauan tarif sekaligus mendukung upaya pemerintah mendorong peralihan penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi massal.





