Plt Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri Irjen Andi Rian Djajadi menyatakan pihaknya berencana mengevaluasi pendidikan dasar siswa Polri yang dinilai terlalu militeristik. Evaluasi tersebut mencakup sejumlah kebiasaan lama dalam pembentukan calon Bhayangkara.
Andi Rian menyebut, praktik calon anggota Polri yang menenteng senjata, memakai helm, hingga membawa ransel berisi batu bata akan dihilangkan. Menurutnya, pendekatan tersebut sedang dikaji ulang dalam proses pembentukan polisi.
“Berencana melakukan kajian dan evaluasi terhadap pendidikan dasar Bhayangkara. Mungkin senior-senior kami merasakan pada saat kita dulu basis namanya, kita masih nenteng senjata, ransel, pakai helm. Ini sedang kami kaji, itu kita hilangkan,” ujar Andi Rian dalam rapat Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/4).
Ia menambahkan, Polri akan melihat praktik pendidikan kepolisian di luar negeri sebagai acuan. Langkah ini dilakukan untuk mencari model pendidikan dasar yang dinilai lebih tepat bagi pembentukan anggota Polri.
Andi Rian juga menegaskan bahwa budaya militeristik akan dihapus sejak awal pendidikan seorang Bhayangkara.
“Karena ini bagian dari militeristik. Kami akan cari benchmark di negara lain bagaimana sih pendidikan dasar pembentukan seorang Bhayangkara yang benar, tidak lagi bawa senjata, bawa ransel diisi batu bata, diisi pasir. Ini upaya kami untuk hilangkan militeristik,” imbuhnya.





