Industri plastik nasional mulai mengalihkan sumber impor bahan baku dari kawasan Timur Tengah ke negara lain menyusul terganggunya pasokan akibat perang Amerika Serikat - Iran. Akibatnya, waktu pengiriman melonjak dari sebelumnya sekitar 15 hari menjadi 50 hari.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Fajar Budiyono, mengatakan industri sebenarnya telah mengantisipasi potensi gangguan sejak akhir Februari 2026, ketika terjadi serangan ke Iran. Menurutnya, kondisi itu diperparah dengan momentum menjelang Lebaran, di mana industri lebih fokus menjaga distribusi produk ke pasar. Namun, perubahan situasi yang cepat membuat kepastian pasokan bahan baku menjadi sulit diprediksi.
“Di minggu pertama kita sudah mulai membuat perkiraan, tapi di minggu kedua harga sudah melonjak. Kemudian di minggu ketiga, banyak pabrik yang tutup sehingga ketidakpastian suplai bahan baku semakin besar,” ujar Fajar kepada Katadata.co.id, Kamis (2/4).
Sebelumnya pasokan bahan baku plastik yang berasal dari Timur Tengah dapat dikirim dalam waktu relatif singkat, sekitar 10 hingga 15 hari. Namun kini, dengan peralihan sumber impor ke luar kawasan tersebut, waktu pengiriman meningkat tajam.
“Ini menjadi tantangan besar bagi industri untuk menjaga keberlanjutan pasokan,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, industri mulai mencari alternatif sumber bahan baku dari berbagai kawasan, seperti Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika. Meski demikian, perubahan pola impor ini turut berdampak pada efisiensi logistik dan biaya produksi.
Fajar menambahkan, kelangkaan bahan baku juga menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga plastik di dalam negeri. Hal ini tidak terlepas dari ketergantungan industri terhadap bahan baku berbasis nafta, yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah.
“Sekitar 70% bahan baku plastik itu berasal dari nafta, yang selama ini banyak dipasok dari Timur Tengah. Ketika pasokan terganggu, tentu terjadi kelangkaan yang berdampak pada harga,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Indonesian Packaging Federation, Henky Wibawa, mengatakan kenaikan harga bahan baku plastik berdampak langsung terhadap biaya produksi kemasan, terutama pada kemasan fleksibel seperti standing pouch untuk minyak goreng dan beras.
Ia menjelaskan, porsi biaya bahan baku pada kemasan fleksibel dapat mencapai 50–70% dari total biaya produksi kemasan. Dengan kenaikan harga bahan baku yang mencapai minimal 80%, maka biaya kemasan dapat naik sekitar 40%.
“Kalau kenaikan harga bahan baku minimal 80%, maka biaya kemasan akan naik paling tidak sekitar 40%. Produsen kemasan harus memilih antara menaikkan harga jual atau memotong margin keuntungan,” ujar Henky.
Menurutnya, kenaikan biaya kemasan pada akhirnya juga akan mempengaruhi harga produk jadi, sehingga produsen harus mempertimbangkan elastisitas permintaan pasar. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi dan inovasi antara produsen kemasan dan pemilik merek agar kenaikan biaya tidak terlalu membebani konsumen.




