YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memprakirakan tingkat curah hujan selama musim kemarau 2026 berada di bawah rata-rata klimatologis. Kondisi tersebut memicu musim kemarau menjadi lebih kering daripada biasanya.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY Reni Kraningtyas menyebut fenomena El Nino berintensitas lemah hingga moderat menjadi faktor pemicu penyusutan curah hujan tahun ini.
"Fenomena El Nino diprediksi mulai terjadi pada bulan Juli hingga akhir tahun 2026 dengan peluang 50 sampai 60 persen," kata Reni dikutip dari Antara, Kamis (2/4/2026).
Reni meminta masyarakat mewaspadai potensi kekeringan ekstrem yang mengancam wilayah DIY. Puncak ancaman kekeringan ini diprediksi terjadi menjelang hingga sesudah puncak musim kemarau, tepatnya pada periode Juli sampai September 2026.
Baca Juga: BMKG Ungkap Timeline Tsunami Gempa M 7,6: Peringatan Pertama Keluar 2 Menit 45 Detik
Sebagai langkah mitigasi sektor pertanian, BMKG menyarankan penerapan pola tanam yang sesuai agar petani tidak mengalami gagal panen. Reni juga menyoroti penanganan khusus bagi kawasan rawan kekeringan meteorologis.
"Untuk wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis agar mengambil langkah antisipatif melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," tuturnya.
Ancaman Cuaca PancarobaSebelum menghadapi puncak kemarau, masyarakat harus melewati masa peralihan atau pancaroba pada akhir musim hujan.
Reni mengingatkan seluruh pihak untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang berlangsung cepat.
"BMKG mengimbau pemerintah daerah, institusi terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan pada masa akhir musim hujan yang ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir," ucapnya.
Penulis : Danang Suryo Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- BMKG DIY
- musim kemarau 2026
- kekeringan ekstrem
- El Nino
- cuaca pancaroba
- Reni Kraningtyas





