Satu Hari di Rumah, Seberapa Jauh Menghemat BBM?

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

KEPUTUSAN pemerintah menetapkan kebijakan work from home (WFH) satu hari setiap Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) muncul di tengah ketidakpastian global akibat eskalasi konflik Iran–Israel–Amerika Serikat yang menekan stabilitas pasokan energi dunia.

Ketika harga minyak bergejolak, ruang fiskal pemerintah untuk menahan harga BBM menjadi semakin sempit. 

Dalam konteks ini, WFH diposisikan sebagai instrumen efisiensi energi sekaligus percepatan transformasi digital birokrasi.

Namun pertanyaannya: seberapa efektif WFH satu hari dalam sepekan sebagai kebijakan penghematan BBM? Apakah kebijakan ini berdampak signifikan secara makro, atau lebih bersifat simbolik?

Baca juga: Dosa Sejarah Amerika Berulang, Kekeliruan Trump di Perang Iran

Berbagai studi menunjukkan, WFH memang berkontribusi menurunkan konsumsi energi transportasi, meskipun dampaknya tidak selalu besar.

Analisis International Energy Agency memperkirakan jika pekerja yang memungkinkan bekerja dari rumah melakukannya satu hari per minggu, konsumsi minyak global untuk transportasi jalan dapat turun sekitar 1 persen per tahun. 

Penelitian lain terhadap 141 kota yang dipublikasikan di Transportation Research Interdisciplinary Perspectives menunjukkan, setiap peningkatan 1 persen pekerja WFH berkorelasi dengan penurunan emisi transportasi harian sekitar 1,8 persen. 

Pengurangan perjalanan harian juga menekan kemacetan dan biaya eksternal transportasi, seperti polusi dan waktu hilang akibat perjalanan sebagaimana dilansir di Transportation Research Record: Journal of the Transportation Research Board.

Selama pandemi Covid-19, penurunan mobilitas global menyebabkan penurunan konsumsi bensin hingga jutaan barel per hari, menunjukkan betapa sensitifnya permintaan energi terhadap pola kerja.

Artinya, secara teori WFH memang berkontribusi pada efisiensi BBM. Namun dampaknya bersifat gradual, bukan solusi instan terhadap tekanan energi global.

Pengalaman pandemi juga menunjukkan manfaat WFH tidak merata. Pekerjaan berbasis pengetahuan relatif mudah beradaptasi, tetapi sektor manufaktur, layanan publik langsung, dan logistik tetap membutuhkan kehadiran fisik.

Di Indonesia, proporsi pekerja formal yang dapat bekerja secara fleksibel masih terbatas. Artinya, kebijakan WFH bagi ASN kemungkinan hanya berdampak pada sebagian kecil konsumsi BBM nasional.

Studi pasca-pandemi juga menunjukkan adanya rebound effect: berkurangnya perjalanan kerja dapat digantikan oleh perjalanan lain, misalnya aktivitas rekreasi atau bekerja dari lokasi alternatif seperti kafe atau co-working space.

Bahkan beberapa studi menemukan bahwa penghematan energi transportasi sebagian diimbangi peningkatan konsumsi listrik rumah tangga. 

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dengan kata lain, WFH bukan kebijakan energi yang berdiri sendiri. Efektivitasnya bergantung pada desain kebijakan pendukung.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Data Terbaru Jumlah Saham Intiland DILD Milik Lo Kheng Hong April 2026
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Wagub Rano Karno Dorong Talenta Muda Film Jakarta Tembus Global lewat JYFF 2026
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Menemukan Kristus di Atas Kanvas: Cara Seniman Muda Toraja Maknai Jumat Agung dan Paskah
• 19 menit laluharianfajar
thumb
Mengaku jadi Korban Begal, Pemuda di Jaksel Ternyata Dikeroyok dan Dibacok Kelompok Tawuran
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Trump Ledek Macron yang Didorong Istri, Bentuk Frustasi atas Minimnya Bantuan NATO di Perang Iran?
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.