Kisah Ibu dalam Sosok Maria, Drama Jumat Agung di Jambi Harukan Umat

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Umat Katolik di Gereja Santa Teresia Jambi, berselimut suasana duka, Jumat (3/4/2026) pagi. Mereka terbawa haru saat Maria menangis ketika drama penyaliban Yesus digelar di altar dalam momen Jumat Agung.

Tablo penyaliban Yesus kali ini memang terasa berbeda. Sudut pandangnya tidak biasa, dari mata seorang ibu, Bunda Maria. Hampir setengah bagian drama itu menampilkan beragam nuansa dalam perspektif ibunda Yesus itu.

Ada cinta kasih yang begitu mendalam pada anaknya. Terselip kalut dan takut, dukacita mendalam, hingga kepasrahan penuh pada Sang Pencipta.

Bukan hanya karena perannya yang emosional, tetapi juga karena sosok yang memerankannya sungguh tak terduga. Bukan seorang ibu melainkan remaja berusia 14 tahun bernama Christine.

“Deg-degan banget rasanya,” ujarnya singkat setelah pementasan. Ia mengaku tak menyangka jumlah penonton yang hadir begitu banyak.

“Waktu latihan, kami enggak pernah dilihat orang sebanyak itu,” lanjut dia.

Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu

Di atas panggung, Chistine, siswa kelas VIII itu memikul beban yang jauh melampaui usianya. Tantangannya untuk menghidupkan figur Bunda Maria, ibu yang menyaksikan penderitaan dan wafat anaknya sendiri di kayu salib.

Hampir dua bulan, Christine berlatih bersama 30-an remaja dan pemuda yang tergabung dalam Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Teresia Jambi. Sampai-sampai, pelatih sekaligus konseptor tablo, Andreas Ardana, tak menyangka hasil pentas kali ini memukau.

Ia bercerita, pada bulan pertama, mereka berlatih seminggu sekali. Dua pekan menjelang Jumat Agung, frekuensi latihan meningkat menjadi tiga kali seminggu.

Selama itu Andreas masih kerap khawatir, akankah Christine mampu menghayati penuh perannya sebagai ibu Yesus mengingat usianya yang masih belia.

Tak disangka, karakter Maria yang dibawakan Christine sangat hidup. Hampir seisi gereja dibuat terharu dan larut dalam penghayatan.

Tak hanya penghayatan akan pengorbanan Yesus di kayu salib tetapi juga akan kerelaan dan keteguhan hati seorang ibu.

”Awalnya sulit sekali membayangkan anak kelas VIII memerankan sosok ibu berusia 40-an. Tapi hari ini, dia luar biasa. Di luar ekspektasi,” kata Andreas.

Hampir sepanjang perannya diisi dengan adegan-adegan tangis. Christine pun mencari cara untuk membangun penghayatan.

“Biasanya dengar lagu sedih atau ingat hal-hal yang bikin hati luka,” kata Christine. Dari situ, ia juga coba menghadirkan kesedihan nyata dari peristiwa penyaliban.

Sudut pandang Maria

Pada setiap Jumat Agung, umat Katolik kerap menyelenggarakan tablo penyaliban Yesus. Tablo ini merupakan drama visualisasi atau pertunjukan seni peran yang menggambarkan kisah sengsara Yesus (Passion of the Christ).

Kisahnya mulai dari penangkapan, pengadilan, penyiksaan, hingga wafatnya Yesus di kayu salib. Pertunjukan ini umum diadakan dan untuk merenungkan pengorbanan Yesus.

Namun, tidak seperti pada drama-drama tahun sebelumnya, Andreas menceritakan timnya sengaja menggeser fokus dramatik dari penderitaan Yesus menjadi pengalaman batin seorang ibu.

“Biasanya orang hanya melihat Yesus yang disiksa. Tapi kali ini kita ingin melihat dari sudut pandang Bunda Maria,” ujarnya.

Pendekatan ini membuka ruang tafsir baru. Maria tidak lagi sekadar simbol ketegaran yang statis, melainkan sosok manusiawi yang mengalami proses iman.

Mulai dari menerima kabar kelahiran, menyaksikan perjalanan hidup Yesus, hingga menghadapi kenyataan pahit bahwa anaknya harus menderita di kaki salib.

“Ketegaran itu bukan sesuatu yang instan. Ada proses jatuh bangun dalam beriman,” lanjut Andreas.

Puncak dari perjalanan itu tergambar dalam adegan Pieta—ketika Maria memangku tubuh Yesus yang telah wafat. Dalam keheningan, Maria mengatakan kata-kata terakhir

“Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu,” ujarnya.

Kata-kata ini, lanjut Andreas, persis dengan ucapan yang ia sampaikan sewaktu mendapatkan kabar bahwa dirinya mengandung bayi Yesus. Ini menjadi lambang bentuk beriman dan bentuk kepasrahan diri seutuhnya kepada kehendak Tuhan.

Tak hanya pemeran Maria, dinamika batin juga dirasakan oleh pemeran lain. Windu, yang dalam kesehariannya dikenal sebagai seorang frater atau calon pastur. Pada drama ini ia harus memainkan peran antagonis sebagai pemuka agama yang menentang Yesus.

“Ada pertentangan dalam diri, saya yang biasanya mengajak orang berbuat baik, sekarang justru harus membuat orang membenci peran saya,” ujar Windu.

Ia menceritakan peran yang dibawakan. Namun, itu menjadi tantangan untuk memainkannya semaksimal mungkin di atas panggung.

Tablo penyaliban ini pada akhirnya bukan sekadar pertunjukan seni. Ia menjadi ruang refleksi kolektif akan iman, penderitaan, dan kepasrahan.

Melalui sudut pandang Maria, umat diajak memahami bahwa beriman bukan berarti hidup tanpa luka, melainkan keberanian tetap percaya dan teguh beriman di tengah luka.

Di tengah hening yang menyelimuti akhir pertunjukan, pesan itu terasa begitu kuat: rencana Tuhan tidak selalu sejalan dengan harapan manusia. Namun, di situlah iman menemukan maknanya, yakni dalam kepasrahan yang utuh sebagaimana yang diteladankan Bunda Maria.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Sambangi Kortastipidkor Polri, Koordinasi Soal Penanganan Perkara Tindak Pidana Korupsi
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Penertiban PKL di Stasiun Tabing, Satpol PP Terapkan Penjagaan Ketat
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
KPK Catat 96,24 Persen Pejabat Negara Telah Setor Laporan Harta Kekayaan 2025
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Razman Klaim Ada Dugaan Aliran Dana Rp50 Miliar di Balik Isu Ijazah Jokowi
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Suzuki Burgman Street 2026: Harga, Spesifikasi, dan Fitur Terbaru Skutik 125 cc
• 9 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.