JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena parkir liar masih terjadi di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, bahkan setelah penertiban juru parkir liar dilakukan beberapa hari sebelumnya.
Malam itu, Kamis (2/42026), di sekitar Blok M Square, deretan sepeda motor memenuhi sisi jalan depan ruko-ruko kuliner.
Lampu toko masih menyala, pengunjung datang silih berganti, dan di sela-sela itu, beberapa juru parkir berdiri menunggu.
Tidak ada tarif tertulis. Tidak ada permintaan langsung. Namun, uang tetap berpindah tangan.
Seorang pengendara menyerahkan uang Rp 2.000 setelah motornya dibantu dikeluarkan.
Pengendara lain memberikan uang bahkan sebelum diminta, seolah sudah menjadi kebiasaan tak tertulis.
Baca juga: “Bukan Hak Saya, Maka Saya Kembalikan”: Saat Warga Tinggalkan Lahan Makam di Jakbar
Antara Inisiatif dan Rasa Tidak Enak
KOMPAS.com/HANIFAH SALSABILA Salah satu titik parkir di sekitar Blok M Square yang dikelola juru parkir tak resmi dipadati pengunjung, Kamis (2/4/2026).
Rafael (20) mengaku hampir selalu memberikan uang parkir, meski tidak pernah diminta secara langsung.
“Sebenarnya sih enggak diminta, cuma karena inisiatif sendiri. Enggak enak kalo enggak ngasih, kan sudah dijagain motornya,” ujarnya.
Kalimat “enggak enak” itu berulang dari satu pengunjung ke pengunjung lain. Bukan kewajiban, tapi terasa seperti keharusan sosial.
Bima (27) juga mengalami hal serupa. Ia sering kali baru menyadari keberadaan juru parkir saat hendak keluar.
“Ya suka tiba-tiba ada yang narikin dari belakang. Kan enggak enak kalau enggak dikasih, jadi spontan aja,” kata dia.
Di sisi lain, perasaan itu bercampur dengan ketidaknyamanan.
“Sebenarnya sih mengganggu ya,” kata Rafael.
Namun, ia menambahkan, ada alasan lain yang membuatnya tetap memberi.
“Mungkin karena lapangan pekerjaan sedikit,” tuturnya.