Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae-myung dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Jumat (3/4) sepakat memperkuat kerja sama pertahanan dan energi di tengah krisis akibat perang Iran.
Kesepakatan ini menyoroti dampak perang Iran yang memicu krisis energi global, terutama karena terganggunya jalur pasokan lewat Selat Hormuz.
Macron datang ke Seoul untuk kunjungan kenegaraan pertama sejak 2015 dan langsung menggelar pertemuan bilateral dengan Lee.
Lee mengatakan kedua negara akan bekerja sama menghadapi dampak ekonomi dan energi dari konflik Timur Tengah.
"Presiden Macron dan saya sepakat untuk berbagi strategi guna mengatasi krisis ekonomi dan energi akibat perang di Timur Tengah," kata Lee.
Korsel sendiri sangat bergantung pada impor energi dari jalur tersebut, sementara Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Penutupan ini memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran resesi global.
Macron menilai langkah militer untuk membuka jalur itu tidak realistis, meski Presiden AS Donald Trump mendorong sekutu bertindak.
Di sektor pertahanan, kedua negara sepakat memperluas kerja sama termasuk latihan militer dan produksi senjata.
"Apa yang ingin kami lakukan adalah memberi dimensi baru pada kerja sama ini," ujar Macron.
Selain itu, kerja sama juga diperluas ke sektor strategis seperti semikonduktor, energi nuklir, dan teknologi.
Kedua negara menargetkan nilai perdagangan naik menjadi 20 miliar dolar AS pada 2030.





