Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan konstruksi BUMN Karya, yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) membukukan kinerja keuangan negatif pada 2025. Pendapatan perseroan susut, sedangkan bottom line rugi bersih membesar tiga kali lipat.
Melansir laporan keuangan 2025 diaudit, WIKA membukukan pendapatan neto sebesar Rp13,32 triliun. Angka ini turun 30,74% (year on year/YoY). Pendapatan utama perseroan dari segmen infrastruktur dan gedung yang memiliki pangsa 42,31%, terpangkas 40,12% (YoY) menjadi Rp5,64 triliun.
Pendapatan dari segmen industri juga turun 29,52% (YoY) menjadi Rp3,73 triliun. Berikutnya, pendapatan dari segmen energi dan industrial plant turun 5,73% (YoY) menjadi Rp3,14 triliun, segmen hotel juga susut 66% (YoY) menjadi Rp298,60 miliar.
Pendapatan perseroan dari segmen realty dan properti tumbuh 68,71% (YoY) menjadi Rp276,55 miliar dan dari segmen investasi menyumbang Rp236,71 miliar atau naik 52,91% (YoY). Meski segmen ini naik dua digit, pangsanya yang masing-masing hanya 2,1% dan 1,8% dari tota pendapatan perseroan tak mampu menopang total pendapatan.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan WIKA sepanjang 2025 mencapai Rp12,19 triliun, turun 31,18% (YoY). Bila dibedah, beban terberat berasal dari segmen infrastruktur dan gedung dengan nilai Rp5,21 triliun atau turun 40,88% (YoY), lalu segmen industri dengan beban Rp3,45 triliun atau turun 29,57% (YoY).
Bila menghitung selisih pendapatan neto dan beban pokok pendapatan itu, didapatkan laba bruto WIKA sepanjang 2025 mencapai Rp1,13 triliun. Angka ini merosot 25,77% (YoY) dari laba bruto 2024 sebesar Rp1,52 triliun.
Baca Juga
- WIKA Lepas Kepemilikan Saham di Hotel Indonesia Group, Ada Apa?
- Gugatan PKPU Dicabut, Tekanan Hukum Wijaya Karya (WIKA) Mereda
Selanjutnya, WIKA juga mencatat beberapa pos beban lainnya, seperti beban usaha Rp5,41 triliun, beban keuangan Rp2,97 triliun, hingga beban rugi ventura bersama senilai Rp1,44 triliun. Alhasil, WIKA mencatat rugi neto sebesar Rp10,13 triliun. Rugi neto ini melejit 303,18% (YoY) dibanding Rp2,51 triliun pada periode 2024.
Dari sisi bottom line, rugi neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau rugi bersih tercatat sebesar Rp9,71 triliun, juga melebar 328,31% (YoY) atau lebih dari 3 kali lipat dari rugi bersih 2024 sebesar Rp2,27 triliun.
Dari sisi neraca keuangan, WIKA mencatat total aset sebesar Rp50,15 triliun atau turun 21% (YoY). Penurunan ini didorong oleh ekuitas perseroan yang terpangkas 85,8% (YoY) menjadi Rp1,68 triliun. Sedangkan, total liabilitas tercatat turun 6,07% (YoY) menjadi Rp48,46 triliun.
Postur utang perseroan terdiri dari liabilitas jangka panjang Rp32,95 triliun dan jangka pendek Rp15,51 triliun. Keduanya masing-masing naik 1,13% (YoY) dan turun 18,41% (YoY).
Di lantai bursa, saham WIKA telah disuspensi Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 18 Februari 2025. Harga saham WIKA tertahan di level Rp204 sejak suspensi hingga sekarang.





