SURABAYA, KOMPAS - Umat Katolik di Surabaya, Jawa Timur, diajak memaknai ibadat Jumat Agung sebagai perayaan kemenangan yang bukan lahir dari kekuatan material melainkan dari kasih setia.
Jumat Agung merupakan hari kedua dari rangkaian peribadatan Tri Hari Suci. Sehari sebelumnya, umat Katolik menjalani Kamis Putih. Lalu, ada Sabtu Suci.
Ibadat Jumat Agung diadakan pada siang dan petang. Menurut katekese atau ajaran, Gereja Katolik tidak mengadakan ibadat untuk mengenang kematian Yesus Kristus yang disalibkan setelah pukul 21.00.
Selain itu, Gereja Katolik tidak memberikan pelayanan sakramen kecuali pertobatan dan perminyakan. Untuk itu, Jumat Agung dirayakan bukan dengan misa atau perayaan ekaristi, melainkan ibadat meskipun dalam tata cara ada pembagian komuni kudus.
Sebelum ibadat, pada Jumat pagi, biasanya antara pukul 07.00-09.00 WIB diadakan jalan salib. Setelah itu, siang atau petang, umat mengikuti ibadat Jumat Agung yang di dalamnya selalu dibacakan kisah sengsara dan wafat Yesus Kristus dari Injil menurut Yohanes.
Di Gereja Katolik Santo Yohanes Pemandi di seberang Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr Ramelan Surabaya, ibadat Jumat Agung dipersembahkan oleh Pastor Kepala Paroki RD Edward Paulus Suryandoko. Dalam homili dinyatakannya kematian Yesus di salib kerap dipandang sebagai kekalahan. Namun, kaca mata iman melihatnya sebagai kemenangan.
”Hanya dengan kematian Yesus di salib, keselamatan dari penebusan dosa didapatkan,” ujar Suryandoko. Kematian bukan akhir melainkan jalan menuju kebangkitan yang dirayakan umat Katolik pada Minggu Paskah. Tanpa kematian di salib, tiada keselamatan apalagi kemenangan dalam kebangkitan.
Hal senada diutarakan Pastor Rekan Paroki Salib Suci Tropodo RP Fransiskus Sidok Utapara, SVD, dalam refleksi yang dikirim dari RS Gotong Royong, Surabaya. ”Secara manusiawi, kematian adalah akhir, kekalahan, dan kehilangan. Namun dalam terang iman, khususnya dalam sengsara dan wafat Kristus, kita menemukan bahwa di balik kematian, ada kemenangan kasih yang agung,” tulisnya dalam pemulihan dari sakit.
Frans Sidok melanjutkan, dari bacaan di Kitab Yesaya dikisahkan sosok hamba yang dihina, ditolak, tak berharga tetapi membawa keselamatan. Kisah ini digenapkan melalui sengsara dan wafat Yesus dalam penyaliban.
”Kemenangan sejati tidak lahir dari kekuatan, tetapi dari kasih yang setia sampai akhir,” ujar Frans Sidok. Dalam kisah sengsara dan penyaliban, Yesus ditangkap, dihakimi tidak adil, disesah, dan dibunuh secara keji lewat salib.
Namun, tiada perlawanan. Yesus diibaratkan Anak Domba yang disembelih. Tampak dalam pandangan manusia sebagai kekalahan. Padahal, sejatinya ialah kemenangan. Kekejian dibalas dengan pengampunan atau cinta kasih.





