Empat antariksawan yang mengendarai kapsul Orion dalam misi Artemis II telah berhasil menyalakan mesin utama wahana dan melakukan injeksi translunar. Proses itu membuat Orion sukses keluar dari orbit Bumi dan saat ini sedang dalam jalur yang tepat dalam perjalanan menuju sisi belakang atau sisi jauh Bulan.
Injeksi translunar (TLI) adalah manuver propulsi alias mesin pendorong wahana yang bisa membuat Orion keluar dari orbit Bumi dan mengarahkan wahana ke jalur menuju Bulan. Penyalaan mesin utama Orion dalam proses TLI yang berlangsung selama 5 menit 55 detik itu dilakukan Kamis (2/4/2026) malam waktu Amerika Serikat atau Jumat (3/4/2026) siang waktu Indonesia.
Setelah manuver itu, kini, Orion dan empat antariksawan di dalamnya, sedang dalam fase perjalanan menuju Bulan. Dengan TLI yang sukses, antariksawan yang kini sudah berada di lintasan yang tepat menuju Bulan pun merasa senang dan menyampaikan terima kasihnya kepada semua pihak yang berhasil mewujudkan misi Artemis II.
“Kami hanya ingin menyampaikan kepada semua manusia di seluruh Bumi yang telah bekerja untuk mewujudkan misi Artemis. Kami (antariksawan) merasakan kekuatan dan ketekunan mereka dari setiap detik proses pembakaran yang terjadi,” kata antariksawan Jeremy Hansen (50) dari Badan Antariksa Kanada (CSA) seperti dikutip Space. Ini adalah penerbangan ke luar angkasa pertama Hansen dan dia menjadi orang non AS pertama yang menuju Bulan.
Keberhasilan itu, sekali lagi, juga menunjukkan kemampuan manusia untuk mewujudkan impiannya. Harapan manusia akan masa depan yang lebih baik itu akhirnya bisa membawa keempat antariksawan tersebut dalam perjalanan ke Bulan. Perjalanan Artemis II ke Bulan ini merupakan perjalanan di luar orbit Bumi pertama yang dilakukan manusia sejak tahun 1972.
Saat Orion berada di balik Bulan, antariksawan akan menyaksikan gerhana Matahari total.
Selain Hansen, ketiga antariksawan lainnya semua berasal dari Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS atau NASA. Mereka adalah Reid Wiseman (50) selaku komandan penerbangan, pilot Victor Glover (49), dan spesialis misi Christina Koch (47). Mereka semua adalah penerbang luar angkasa veteran atau astronot NASA yang memiliki pengalaman panjang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Untuk antariksawan yang terbang ke Bulan, Glover adalah orang kulit hitam pertama dan Koch adalah perempuan pertama.
Misi Artemis II diluncurkan dari Bandar Antariksa Kennedy di Florida, AS, pada Rabu (1/4/2026) petang waktu AS atau Kamis (2/4/2026) pagi waktu Jakarta. Keempat antariksawan itu diangkut menggunakan kapsul Orion yang diletakkan di ujung atas roket Space Launch System (SLS). Setelah meluncur, Orion dan awaknya tetap berada di orbit Bumi lebih dari 24 jam guna pemeriksaan berbagai sistem dalam kapsul sebelum wahana diluncurkan ke luar angkasa yang lebih jauh.
Sistem dalam kapsul yang diperiksa itu, seperti dikutip dari BBC, antara lain berupa sistem navigasi, mesin, dan sistem pendukung kehidupan Orion, terutama sistem toilet. Ini adalah untuk pertama kalinya Orion pergi ke Bulan dengan membawa toilet di dalamnya.
Setelah manajemen misi Artemis II memberikan lampu hijau, penyalaan mesin utama Orion untuk melakukan injeksi translunar (TLI) akhirnya dilakukan pada Kamis (2/4) malam waktu AS atau Jumat (3/4) pagi waktu Jakarta. Manuver itu dilakukan untuk menempatkan Orion pada lintasan yang pas untuk memutari Bulan dan kemudian langsung kembali ke Bumi, tanpa memerlukan manuver besar lainnya.
Mesin utama itu dinyalakan menggunakan modul layanan yang ada di belakang kursi awak. Dorongan panjang dan stabil dari mesin tunggal itu menambah kecepatan gerak Orion hingga ribuan kilometer per jam.
“Dengan manuver TLI itu, maka pada dasarnya antariksawan tinggal menyelesaikan sisa misi,” tambah Koch sebelum peluncuran.
Proses TLI itu dilakukan menggunakan mesin manuver orbital Orion. Mesin ini juga digunakan dalam program pesawat ulang-alik NASA dan kini telah ditingkatkan kemampuannya untuk mendukung misi Artemis. Mesin ini telah terbang ke luar angkasa sebanyak 19 kali dengan tiga pesawat ulang-alik yang berbeda. Jika mesin itu digunakan pada mobil, maka mesin ini bisa mempercepat laju kendaraan dari nol kilometer per jam (km/j) menjadi 97 km/j hanya dalam waktu 2,7 detik.
Selain mesin manuver orbital yang menjadi penggerak utama Orion, kapsul ini juga memiliki delapan mesin bantu yang berukuran lebih kecil. Kedua jenis penggerak itu ada di Modul Layanan Eropa yang dibuat oleh Badan Antariksa Eropa (ESA). Selain itu, penggerak kapsul itu adalah seperangkat pendorong kontrol reaksi yang ada di kapsul tersebut.
Kini, Artemis II telah berada di jalur yang tepat untuk menjadi misi berawak pertama yang kembali mengunjungi Bulan setelah misi Apollo 17 yang mendarat di permukaan Bulan pada Desember 1972. Orion akan mengelilingi Bulan pada hari keenam misi atau 5 hari 1 jam 30 menit setelah meluncur dari Bumi.
Selama perjalanannya, misi Artemis II ini juga akan memecahkan rekor lain yaitu menjadi teknologi berawak buatan manusia yang mencapai jarak terjauh dari Bumi. Saat melintasi bagian belakang atau sisi jauh Bulan (kuncian gravitasi Bumi membuat hanya satu sisi Bulan yang terlihat dari Bumi, sehingga Bulan dianggap memiliki dua sisi, sisi dekat yang terlihat dari Bumi dan sisi jauh atau belakang yang tidak pernah terlihat dari Bumi), Orion akan mencapai jarak 406.841 km dari Bumi.
Jarak itu lebih jauh sekitar 6.600-an km dibanding rekor penerbangan sebelumnya yang dilakukan Apollo 13 tahun 1970 pada jarak 400.171 km. Masalahnya, jarak terjauh yang dicapai Apollo 13 itu adalah sebuah ‘kecelakaan’ atau anomali dalam penerbangan yang akhirnya menggagalkan rencana misi tersebut untuk mendarat di permukaan Bulan. Setelah jarak terjauh itu dicapai Orion, maka gravitasi Bulan akan menarik kembali wahana mendekati Bulan.
Meski manuver TLI membawa Orion menuju Bulan, namun TLI bukanlah titik tanpa kembali bagi Orion. Bahkan setelah pembakaran mesin utama yang membuat wahana bergerak menuju Bulan, sistem pengendali wahana dirancang untuk tetap bisa melakukan manuver yang dapat membuat Orion memutar balik secara mendadak di luar angkasa dan membawa antariksawan kembali ke Bumi.
Upaya darurat itu dapat dilakukan jika benar-benar terjadi kesalahan dalam misi. Putar balik itu, menurut manajer program Orion Howard Hu sebelum peluncuran Artemis II, adalah cara tercepat bagi Orion dan awaknya untuk pulang kembali ke Bumi dalam 36 jam setelah TLI. Setelah tenggang waktu itu terlampaui, maka Orion memiliki peluang yang sama, dan seringkali lebih mudah, untuk tetap berada dalam jalur mengelilingi Bulan dan akhirnya kembali juga ke Bumi.
“Tim telah menjalankan ratusan ribu simulasi guna memastikan awak bisa pulang dengan selamat ke Bumi,” tambahnya. Namun setelah proses TLI berjalan lancar, Hu tersenyum lebar kepada wartawan dan mengatakan, “Sungguh, ini adalah beberapa hari yang luar biasa.”
Saat Orion melesat ke luar angkasa yang makin jauh dari Bumi, pemandangan melalui jendela yang disaksikan para astronot meninggalkan kesan yang mendalam. Dalam konferensi video pertama sejak peluncuran, Wiseman mengatakan, “Anda bisa melihat seluruh globe (bola Bumi) dari kutub ke kutub. Itu adalah momen paling spektakuler yang membuat kami berempat tidak bisa berkata-kata.”
Semakin jauh Orion dan antariksawan meninggalkan Bumi, Bumi terlihat makin mengecil menjadi seperti kelereng biru dan putih yang tertinggal di belakang mereka. Sebaliknya, Bulan justru terlihat makin membesar dari yang semula terlihat seperti cakram cahaya menjadi dunia yang penuh kawah dan memenuhi kaca jendela wahana.
Selain itu, pada hari keenam misi nantinya, saat Orion berada di balik Bulan, antariksawan akan menyaksikan gerhana Matahari total. Cahaya Matahari yang terang akan terblok oleh piringan Bulan sehingga lingkaran cahaya Matahari akan menghilang untuk sementara dan memunculkan cahaya halo Matahari yang berkilauan. Sementara Bumi, akan berada di salah satu sisi Bulan menampilkan pemandangan yang tak kalah spektakuler.
Artemis II akan kembali ke Bumi pada hari ke-10 misi. Mereka akan mendarat di Samudra Pasifik di lepas pantai San Diego, California, AS. Keberhasilan penuh dari misi ini akan membuka jalan bagi pendaratan manusia kembali di Bulan dalam misi Artemis IV yang direncanakan akan berlangsung paling cepat pada 2028. Jika target itu tercapai, maka rencana pembangunan pangkalan di Bulan yang akan menjadi tempat transit bagi manusia dalam perjalanan menuju Mars, pada beberapa tahun sesudahnya, juga akan terbuka lebar.





