Tantangan Buku Anak di Era Serba Digital

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Hari Buku Anak Sedunia atau International Children’s Book Day diperingati setiap tanggal 2 April. Organisasi nirlaba International Board on Books for Young People (IBBY) hadir untuk mewakili jaringan internasional menjadi sponsor kegiatan setiap tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap buku dan membaca sejak usia dini.

Setiap tahun, Seksi Nasional IBBY yang berbeda menjadi sponsor internasional Hari Buku Anak Sedunia. Tahun ini, sponsor yang terpilih dari Republik Siprus mengusung tema ”Plant Stories and the World Will Bloom!”. Melalui tema ini, mereka ingin menyampaikan peran penting dari sebuah cerita sehingga dapat menumbuhkan daya imajinasi anak-anak sejak dini.

Kegiatan ini penting untuk terus ditumbuhkan di tengah ancaman arus digitalisasi yang menggerus minat membaca buku pada anak-anak. Apalagi, sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, lanskap tumbuh kembang anak secara global juga berubah. Kondisi ini memengaruhi pula kebiasaan anak dalam mengonsumsi sumber bacaan.

Pada 2020, Unicef mengungkapkan rendahnya tingkat pembelajaran anak-anak. Diperkirakan hanya satu pertiga anak berusia 10 tahun di dunia yang mampu membaca dan memahami cerita sederhana. Angka itu turun separuhnya jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi.

Baca JugaTetaplah Membaca Buku walau Libur Lebaran

Akses terhadap pembelajaran berkualitas selama pandemi Covid-19 semakin memperburuk krisis pembelajaran yang sudah ada sebelumnya. Ketergantungan penggunaan gawai sebagai sarana belajar menyebabkan jutaan anak di seluruh dunia kekurangan keterampilan dasar menghitung dan membaca. Gawai yang sebelumnya berfungsi sebagai alat bantu kini berubah menjadi sarana utama anak-anak untuk berinteraksi, mencari hiburan, bahkan belajar.

Padahal, sebelum hadirnya gawai, tumbuh kembang anak-anak diwarnai dengan cerita dongeng, cerita rakyat, dan buku bergambar. Dari situlah, anak-anak belajar mengenal dunia, bebas berimajinasi dan berkreasi, hingga belajar membangun interaksi sosial sejak dini. Apalagi jika orangtua turut membacakan buku cerita. Peran mereka akan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan anak usia dini.

Hal ini diperkuat dengan penelitian Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tahun 2020 yang menyebutkan, anak usia lima tahun yang dibacakan buku oleh orangtuanya akan memiliki kemampuan empati, prososial, dan mengatur emosi lebih tinggi ketimbang anak di kelompok usia yang sama, tetapi tidak dibacakan buku. Selain itu, kemampuan anak dalam berkomunikasi dan berbahasa juga dapat dioptimalkan dengan membacakan buku kepada anak sejak dini.

Industri buku tertekan

Mendorong anak, bahkan orangtua, membaca buku dan menumbuhkan minat baca bukanlah hal mudah. Saat ini, anak-anak telah terbiasa hidup di era serba digital. Ketergantungan terhadap gawai seolah membuat mereka sulit melepaskan diri. Akibatnya, kegemaran membaca pun menurun.

Indonesia juga menghadapi persoalan penurunan minat baca. Sebelumnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat Indeks Tingkat Kegemaran Membaca menunjukkan tren yang meningkat sejak tahun 2020 hingga 2024, dari skor 55,75 menjadi 72,44. Namun, seiring dengan perkembangan akses internet yang masif, Indeks Tingkat Kegemaran Membaca tahun 2025 turun drastis menjadi 54,80. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan saat pandemi.

Tak dapat dimungkiri, perkembangan teknologi memengaruhi anak-anak dalam mengakses informasi sehingga menimbulkan ketimpangan pada akses buku fisik dengan dunia digital. Ketimpangan ini tidak lahir dari pilihan individu semata, tetapi dari ekosistem yang membentuknya. Gawai didukung oleh industri global dengan algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian di layar selama mungkin. Sementara itu, buku bergerak dalam sistem produksi dan distribusi yang jauh lebih terbatas.

Belum lagi, industri perbukuan juga harus mengalami disrupsi teknologi. Beberapa penerbit di Indonesia melakukan berbagai cara untuk keluar dari dampak pandemi Covid-19. Transformasi dan pemasaran digital menjadi langkah yang diambil penerbit. Namun, masifnya pembajakan buku, baik cetak maupun digital, justru menghantui.

Tak berhenti di situ, buku digital juga menghadapi tantangan karena harus bersaing dengan konten hiburan berdurasi pendek yang jauh lebih menarik secara visual, walaupun kebenaran informasi yang diberikan tidak bisa dipastikan.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia Arys Hilman Nugraha mengatakan, industri buku tidak bisa dipertentangkan dengan kemajuan teknologi karena sejak dulu buku telah menjadi sumber dari berbagai bentuk perubahan. Oleh karena itu, industri penerbitan buku perlu adaptasi dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat yang berubah akibat kemajuan teknologi.

Selain buku digital dan audiobook, bentuk paling mudah yang bisa diakses adalah dalam format berkas digital (Portable Document Format/PDF). Ada pula buku digital disertai gambar animasi yang lebih interaktif dan responsif sehingga membuat anak-anak lebih tertarik membacanya.

Anak-anak tidak hanya disuguhi bahan bacaan cetak, tetapi juga lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar. Data BPS dalam Survei Ekonomi Nasional Maret 2025 menyebutkan, persentase anak usia dini yang menggunakan telepon seluler/nirkabel sebanyak 42,45 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2023, yakni 38,92 persen.

Ketergantungan anak pada gawai semakin parah manakala gawai juga menjadi jalan pintas bagi orangtua untuk menenangkan anak. Hal ini merupakan fenomena digital pacifier (gawai sebagai penenang). Anak dibiarkan berinteraksi dengan gawai agar tenang dan terkadang durasi waktu di depan layarnya tidak terbatas.

We Are Social 2025 menyampaikan, rata-rata anak Indonesia menghabiskan hampir delapan jam per hari berselancar di internet. Kondisi ini berbanding terbalik dengan waktu membaca buku yang sering kali tidak sampai 30 menit.

Budaya gemar membaca

Gawai menghadirkan pengalaman instan dengan tampilan visual yang lebih menarik, interaktif, dan responsif sehingga membuat anak-anak menjadi adiktif. Sementara itu, kehadiran buku cetak yang kadang bentuknya membutuhkan ruang lebih menuntut anak untuk lebih fokus agar bisa memahami isinya dan berimajinasi. Ketimpangan ini membuat keberadaan buku cetak menjadi semakin rentan.

Masalahnya tidak sekadar minat membaca saja, tetapi juga kedalaman membaca. Anak tetap membaca, tetapi tidak terbiasa membaca mendalam dan memahami isi. Dampaknya terlihat pada capaian literasi membaca yang masih rendah.

Oleh karena itu, mengupayakan agar kegemaran membaca di kalangan anak-anak kembali meningkat harus terus dilakukan bersama semua pihak. Apalagi, sebenarnya dalam industri penerbitan, buku cerita anak masih banyak diminati selain buku populer. Namun, penurunan oplah buku membuat jumlah buku yang dicetak juga turun. Imbasnya, harga buku jadi lebih mahal.

Baca JugaLiterasi Digital Jadi Bekal Kritis terhadap Informasi yang Beredar

Diperlukan kebijakan yang dapat mendorong gairah industri perbukuan, misalnya dengan memberikan insentif kepada siswa khusus untuk membeli buku. Arys mengusulkan agar program 15 menit membaca sebelum kegiatan belajar-mengajar kembali digencarkan. Anak-anak bisa membaca apa pun, seperti buku, koran, atau majalah, tanpa tuntutan nilai.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan siswa dalam membaca. Apabila ekosistem membaca buku ini kembali bergairah, penerbit makin terpacu untuk terus meningkatkan kualitas terbitannya.

Di sisi lain, pemerintah juga harus terus mendorong penguatan budaya membaca. Pada tahun 2024, misalnya, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dengan gerakan Merdeka Belajar telah mendistribusikan lebih dari 21,4 juta eksemplar buku bacaan bermutu ke lebih dari 14.000 sekolah dasar.

Tak hanya itu, perpustakaan sekolah sebagai akses untuk mendapat bacaan bermutu juga harus mendapat perhatian lebih. Sebagai pusat literasi, perpustakaan sekolah belum berfungsi optimal. Dari sisi jumlah, berdasarkan data Perpustakaan Nasional tahun 2024, perpustakaan sekolah paling banyak sekitar 150 ribu unit. Namun, tidak semua sekolah memiliki perpustakaan.

Selain itu, dari perpustakaan sekolah yang ada, hanya 10.526 yang terakreditasi. Artinya, baru 7 persen yang memenuhi Standar Nasional Perpustakaan.

Hal terpenting lain adalah keberadaan orangtua yang kini dipaksa hadir kembali untuk memegang kendali atas apa yang dikonsumsi anak-anak ketika menghabiskan waktu di layar gawai. Apalagi dengan kehadiran negara melalui sejumlah payung hukum.

Salah satunya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) yang diikuti aturan turunannya, yakni Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026. Selain memperkuat perlindungan anak di ruang digital, ini juga menjadi momentum untuk mengembalikan kebiasaan anak untuk membaca buku.

Membangun budaya baca sejak usia dini adalah kerja yang panjang. Momentum Hari Buku Anak Sedunia harus menjadi titik balik bagi metode read aloud (membaca nyaring) di keluarga Indonesia yang mungkin sudah jarang dilakukan dan mengingat kembali pesan JK Rowling, I do believe something very magical can happen when you read a good book. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Macron Tolak Perangi Iran, Kapal Prancis Lolos Lintasi Selat Hormuz
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
Wakil Ketua MPR Kecam UU Hukuman Mati Israel yang Berpotensi Diskriminatif bagi Tawanan Palestina
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Upaya Penyelundupan 202 Reptil Ilegal ke Dubai Digagalkan
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BMKG Prakirakan Mayoritas Kota Besar Alami Hujan Ringan Hari Ini
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cerita Sopir Truk Sampah Trauma-Antre Berhari-hari Imbas Longsor Bantargebang
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.