Minyak Rusia Jadi Rebutan, Putih Ogah Jual ke Negara-Negara

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita
Foto: Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri pertemuan dengan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko di Kremlin di Moskow, Rusia, 26 September 2025. (REUTERS/Ramil Sitdikov)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah permintaan minyak dunia yang meningkat saat konflik di Timur Tengah, pemerintah Rusia memastikan tidak akan menjualnya ke negara-negara tertentu, yakni yang mendukung skema pembatasan harga dengan kebijakan antipasar.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko mengatakan pasar energi tengah dalam kondisi fluktuatif karena pasokan serta kenaikan harga yang terus terjadi. Moskow juga telah memiliki posisi tegas pada negara yang mendukung Ukraina, termasuk anggota G7 dan Australia yang menyetop impor minyak serta gas Rusia saat perang kedua negara pada 2022 lalu.

"Pasar energi sedang fluktuatif akibat pengetatan pasokan dan kenaikan harga. Rusia tidak akan menjual minyak kepada negara-negara provokatif," kata Andrey Rudenko kepada Izvestia dikutip Sabtu (4/4/2026).


Pilihan Redaksi
  • 11 Update Perang Timur Tengah: Iran Ngamuk, Jet Tempur AS Jatuh
  • Awalnya Bilang Tak Butuh, Trump Ngaku Juga Mau Ambil Minyak Iran
  • Trump Uring-Uringan Mau Bawa AS Tinggalkan NATO, Aliansi Bubar?

Saat itu, negara-negara Barat diketahui melakukan pembatasan pembelian serta memaksa Rusia menjual minyak mentah dengan harga yang lebih murah dengan sistem batas harga yang ditetapkan US$44.

Sementara sekarang, minyak mentah jenis Urals dari Rusia dijual ke India dan pembeli lainnya dengan harga premium. Menjadi US$121,5 per barel pada 19 Maret 2026, naik dari US$12 pada awal Maret lalu.

Dia juga menyinggung kemungkinan pembicaraan dengan negara-negara yang disebut tidak bersahabat untuk membeli minyak, misalnya Jepang. Rudenko mengatakan pihak Tokyo masih terikat aturan pembatasan harga, yang dinilainya mengganggu rantai pasok global.

"Tokyo terikat oleh pembatasan harga, yang merupakan tindakan antipasar dan mengganggu rantai pasokan," ujarnya.

Krisis pada minyak dunia terjadi setelah perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran. AS dan Israel melakukan serangan pada 28 Februari lalu, yang kemudian dibalas, termasuk penutupan Selat Hormuz diblokir oleh Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur krusial untuk membawa seperlima pasikan minyak harian. Penutupan ini membuat harga minyak melonjak hampir 50% hingga hampir US$120 awal bulan ini.

Kejadian ini membuat AS mencabut sementara sanksi pada minyak Rusia yang dimuat ke tanker sebelum 12 Maret, dengan lisensi penjualan hingga 11 April 2026 mendatang.

Terkait hal ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjelaskan sebagai langkah strategis yang berdampak pada arus kas Rusia. Disebutkan langkah ini akan memberikan tambahan pendapatan untuk Rusia saat ketegangan global terjadi.

Langkah AS ini juga membuat sejumlah negara Asia mengamankan pasikan minyak mentak dari Rusia. Termasuk Indonesia, Thailand, Fillipina hingga Vietnam yang tertarik membeli minyak Rusia, sementara India dan China sebagai importir utama menterap kargo minyak dengan skema pengecualian.

 


(npb/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Asia di Tepi Jurang Krisis BBM

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bayang-Bayang Kenaikan Harga BBM, Sepeda Jadi Transportasi Alternatif
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Polisi Selidiki CCTV dan Dugaan Unsur Pidana di Balik Tewasnya 4 Pekerja Proyek TB Simatupang
• 5 jam lalukompas.com
thumb
10 staf medis tewas akibat serangan drone ke sebuah RS di Sudan
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Cak Imin Sebut Jepang Jadi Prioritas Penempatan PMI
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Dokter Sebut Israel Ingin Jadikan Lebanon Selatan Tak Layak Huni, Sistem Kesehatan Terancam Lumpuh
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.