Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah perang AS-Israel melawan Iran yang makin panas, aktivitas pariwisata komersial di Timur Tengah kini tergantikan oleh maraknya penerbangan repatriasi. Kondisi ini memaksa wisatawan menghadapi lonjakan harga tiket pesawat sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan keselamatan.
Mengutip CNBC Internasional, Sabtu (4/4/2026) situasi tersebut menjadi penutupan wilayah udara besar berikutnya yang dihadapi industri penerbangan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Kondisi ini sangat kontras dengan proyeksi Kementerian Ekonomi dan Pariwisata Uni Emirat Arab yang sebelumnya memperkirakan nilai pasar pariwisata negara tersebut dapat mencapai hampir US$950 miliar pada 2026. Dubai, sebagai pusat pariwisata utama kawasan, kini menghadapi tekanan, menyusul penutupan sementara sejumlah bandara akibat konflik.
Pembatalan penerbangan ke dan dari wilayah Timur Tengah telah melampaui 46.000 sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari, berdasarkan data perusahaan analisis penerbangan Cirium kepada CNBC.
Dalam ajang Aviation Festival di Singapura pada Maret, maskapai asal India, SpiceJet, juga menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah telah berdampak signifikan terhadap operasional mereka, terutama karena tingginya lalu lintas penerbangan antara India dan kawasan tersebut.
- Ramai-Ramai Maskapai Asia Ketar-ketir Harga BBM Naik
- Konflik Timur Tengah & Pergeseran Keseimbangan Pasar Minyak
Bukan hanya maskapai yang terdampak. Sejumlah pelancong asal Asia mengaku telah membatalkan rencana perjalanan ke Timur Tengah dan kini mempertimbangkan destinasi alternatif di kawasan masing-masing.
Salah satu wisatawan asal Asia, Michelle Bui Manajer Asosiasi Regional di Ellerton & Co. Public Relations yang berbasis di Vietnam, mengungkapkan bahwa ia semula berencana melakukan perjalanan ke Timur Tengah pada Mei mendatang. Kunjungan ini bertujuan untuk menemui rekan-rekannya.
Namun, rencana tersebut dengan cepat batal saat ia mulai mencari tiket pesawat. Menurutnya, harga tiket melonjak sangat tinggi sehingga tidak lagi sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Dalam wawancara dengan CNBC, Bui mengungkapkan lonjakan harga bahan bakar akibat dampak konflik Iran turut mendorong kenaikan harga tiket pesawat.
Ia menemukan harga tiket penerbangan dari Vietnam ke Timur Tengah, termasuk transit, telah mencapai sekitar US$1.500 hingga US$2.000 pada Maret.
Sementara, Presiden grup perjalanan Safe Harbors Jay Ellenby menyatakan biaya perubahan tiket yang tidak dapat dikembalikan menjadi salah satu pemicu utama pembatalan perjalanan. Ia mengungkapkan terjadi peningkatan pembatalan sebesar 20-30% untuk rute Timur Tengah dari klien Asia.
Menurut dia, banyak wisatawan menyebut biaya perubahan tiket internasional yang mencapai sekitar US$450 sebagai alasan utama mereka membatalkan perjalanan.
Sebagai gantinya, para pelancong ini beralih ke pusat-pusat di Asia Tenggara seperti Singapura atau rute intra-Asia, tambah Ellenby.
Platform pemesanan perjalanan kini mulai memanfaatkan data pengguna untuk memberikan rekomendasi yang lebih efektif, khususnya bagi pelancong yang terdampak gangguan perjalanan atau menghadapi ketidakpastian dalam perencanaan tiket.
Menurut Wakil Presiden Senior perusahaan analitik data Qlik Maurizio Garavello, situs perjalanan berupaya menyederhanakan proses pencarian solusi bagi pengguna. Dengan begitu, pelancong tidak perlu lagi membuka banyak tab pemesanan.
Perjalanan Bisnis Juga Turut TerdampakDampak konflik juga dirasakan pada segmen perjalanan bisnis. Sejumlah perusahaan dilaporkan menunda perjalanan ke wilayah berisiko hingga waktu yang belum ditentukan.
Data dari agen perjalanan Perk menunjukkan bahwa pembatalan penerbangan sukarela pada rute Eropa ke Asia meningkat lebih dari dua kali lipat pada pekan pertama Maret.
Presiden Perk JC Taunay-Bucalo menyatakan bahwa lonjakan ini kemungkinan mencerminkan sikap perusahaan yang tengah mengevaluasi opsi terbaik guna memastikan keselamatan karyawan mereka.
Vincent Siow, General Manager Novo Nordisk untuk wilayah Singapura dan Brunei, mengungkapkan bahwa penerbangannya dari Kopenhagen menuju Singapura pada 28 Februari terpaksa dibatalkan. Akibatnya, ia sempat tertahan di Dubai.
Tim keamanan Novo Nordisk mengatur penerbangan untuk Siow dari Dubai ke Istanbul melalui Doha dan Riyadh, dan kemudian kembali ke Singapura, rute yang rumit menurut perkiraan apa pun.
(fab/fab) Add as a preferred
source on Google




