Melambungnya Harga Pangan-Energi Imbas Perang di Iran

kumparan.com
19 jam lalu
Cover Berita

Eskalasi perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mulai memberikan dampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi global. Salah satunya terlihat dari kenaikan harga pangan dunia pada Maret 2026, yang dipicu lonjakan harga energi serta meningkatnya biaya pengiriman.

Mengutip Bloomberg, Minggu (5/4), Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat indeks harga pangan global mencapai rata-rata 128,5 poin pada Maret, naik 3 poin dibandingkan Februari. Kenaikan tersebut menandai bulan kedua berturut-turut harga pangan dunia mengalami peningkatan, setelah sebelumnya sempat naik pada Februari untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir.

Secara bulanan, indeks harga pangan global tercatat meningkat 2,4 persen. Indeks ini mencerminkan pergerakan harga sejumlah komoditas utama, mulai dari biji-bijian, gula, daging, produk susu, hingga minyak nabati.

Kenaikan tersebut dipicu gangguan rantai pasok akibat perang di Timur Tengah. Perang mendorong lonjakan harga energi dan pupuk, serta menghambat arus distribusi biji-bijian dan bahan baku penting yang melintasi Selat Hormuz.

Di sisi lain, harga minyak dunia juga mengalami lonjakan signifikan. Harga minyak tercatat menembus level USD 110 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan eskalasi perang Iran akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi ini berpotensi memperpanjang gangguan terhadap jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur vital.

Mengutip Bloomberg, harga West Texas Intermediate (WTI) melonjak 11 persen, sementara harga minyak Brent sebagai acuan global bertahan di kisaran USD 109 per barel. Bahkan, kontrak berjangka solar di Eropa tercatat melampaui USD 200 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.

Lonjakan harga energi pun merembet ke komoditas lain, termasuk minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) dalam laporan Outlook Sawit Kuartal II 2026 memproyeksikan harga CPO global akan terus meningkat sepanjang periode tersebut, seiring kenaikan harga energi di tengah eskalasi konflik geopolitik.

Dalam proyeksinya, harga CPO diperkirakan naik dari sekitar USD 1.165 per ton pada Maret 2026 menjadi USD 1.440 per ton pada April, kemudian meningkat lagi menjadi USD 1.701 per ton pada Mei, dan mencapai USD 1.783 per ton pada Juni 2026. IPOSS menilai tren kenaikan ini tidak hanya dipengaruhi langsung oleh ketegangan geopolitik, tetapi juga mencerminkan keterkaitan yang semakin erat antara pasar minyak sawit dan energi global.

Harga Plastik Naik

Dampak perang juga mulai terasa pada sektor industri, khususnya pada harga plastik. Kenaikan harga plastik terjadi akibat terganggunya pasokan bahan baku utama, yakni nafta, yang terdampak oleh gangguan rantai pasok global.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai plastik memiliki peran penting sebagai komoditas antara yang digunakan di berbagai sektor industri.

“Jadi ketika pasokan nafta terganggu akibat tensi geopolitik, efeknya bersifat multiplier, tekanan biaya di hulu akan langsung menjalar ke berbagai lini produksi di hilir,” ungkapnya kepada kumparan, dikutip Minggu (5/4).

Menurut Yusuf, kompleksitas persoalan ini semakin meningkat karena Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik, termasuk dari Korea Selatan dan Jepang. Ketika negara pemasok tersebut turut terdampak, pilihan alternatif bagi industri dalam negeri menjadi terbatas, setidaknya dalam jangka pendek.

Ia juga mengingatkan kondisi ini berpotensi memicu tekanan inflasi dari sisi penawaran atau cost push inflation, yang relatif sulit dikendalikan karena bukan berasal dari peningkatan permintaan domestik. Meski demikian, secara makro dampaknya belum tentu langsung mengguncang perekonomian secara signifikan.

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Telisa Aulia Falianty. Ia menjelaskan, komoditas yang berkaitan dengan energi, termasuk plastik berbasis nafta, akan mengalami kenaikan harga secara bertahap dan berdampak pada sektor industri.

“Harga plastik ini ternyata tergantung dari pasokan nafta, terus petrochemical itu juga dari migas, jadi migas ini relate juga dengan plastik dan produk-produk turunan petrochemical, nah ini pasti akan berdampak,” ucap Telisa.

Telisa berharap konflik di Timur Tengah tidak berlangsung lama agar dampaknya terhadap ekonomi nasional hanya bersifat sementara. Namun, ia mengingatkan jika konflik berkepanjangan, maka tekanan terhadap daya beli masyarakat berpotensi meningkat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hadapi Ketidakpastian Global, Jaringan Nasional Prabowo-Gibran Serukan Persatuan
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Pesan Semangat Asnawi Mangkualam ke PSM Makassar: Kode untuk Kembali?
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Mampukah Wajah Baru Timnas Futsal Indonesia Jaga Identitas di ASEAN Championship 2026?
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Konser F4 di Jakarta Ganti Tanggal, Cek Jadwal Terbarunya
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Aktivitas Gunung Slamet Meningkat, PVMBG Larang Aktivitas dalam Radius 3 Km dari Kawah
• 12 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.