Bisnis.com, JAKARTA—Salah satu riset menyebutkan pertumbuhan minat trading investor Indonesia yang disertai kehati-hatian dalam memilih broker atau platform investasi.
Invesnesia, platform media investasi multi-asset, menyebut temuan menarik mengenai perilaku trader ritel di Indonesia setelah berhasil mereferensikan lebih dari 4.000 klien trading dalam kurun waktu sekitar 2,5 tahun.
Selama periode pertengahan 2023 hingga akhir 2025, Invesnesia mencatat sekitar 75% pendaftaran klien trading berasal dari artikel yang berorientasi pada pengambilan keputusan, seperti ulasan broker, perbandingan platform trading, serta konten edukasi yang menjawab pertanyaan praktis dari trader.
Alfatur, Head of Research Invesnesia, menyampaikan Indonesia dinilai sebagai salah satu pasar ritel trading yang unik. Di satu sisi, minat terhadap trading cukup tinggi, terutama di instrumen seperti forex, CFD, dan komoditas seperti emas (XAUUSD).
Namun di sisi lain, banyak trader pemula juga memiliki tingkat kehati-hatian yang tinggi karena pengalaman pasar yang pernah diwarnai oleh broker ilegal atau skema investasi yang menyesatkan.
“Kondisi ini membuat proses pengambilan keputusan trader di Indonesia cenderung dimulai dari pencarian informasi, bukan dari brand broker itu sendiri. Banyak trader memulai perjalanan mereka dengan pertanyaan seperti apakah trading legal, broker mana yang aman, atau platform mana yang cocok untuk pemula,” jelasnya dalam keterangan resmi, Minggu (5/4/2026).
Menurut Alfatur, pertumbuhan investasi atau trading tidak hanya didorong oleh kampanye promosi agresif atau strategi periklanan jangka pendek, tetapi juga menarik kepercayaan investor.
“Banyak broker berfokus pada tahap akhir keputusan, padahal proses pembentukan kepercayaan terjadi jauh sebelum seorang trader mengklik tombol registrasi,” ujarnya.
Sementara itu, elemen lain seperti banner dan listing broker memang jarang terlihat sebagai sumber konversi langsung dalam laporan analitik. Namun, keberadaan elemen tersebut tetap memainkan peran penting dalam membentuk persepsi dan legitimasi suatu brand di mata trader.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media finansial memainkan peran penting sebagai lapisan keputusan dalam perjalanan trader, bukan sekadar sebagai sumber traffic.
“Dalam banyak kasus, trader tidak langsung mengunjungi situs broker. Mereka terlebih dahulu mencari jawaban, perbandingan, dan validasi dari pihak ketiga sebelum membuat keputusan,” tuturnya.
Seiring berkembangnya teknologi pencarian berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Large Language Model (LLM), peran media dalam membentuk narasi dan persepsi industri juga dinilai semakin penting.
Dalam konteks tersebut, Invesnesia melihat bahwa broker yang berhasil berkembang di pasar Indonesia umumnya memiliki pendekatan yang berbeda. Mereka cenderung lebih terbuka terhadap proses edukasi, bersedia dibandingkan secara objektif dengan kompetitor, serta membangun visibilitas brand secara konsisten dalam ekosistem media.
Ke depan, Invesnesia menilai bahwa strategi akuisisi trader kemungkinan akan semakin bergeser dari pendekatan berbasis promosi menuju pendekatan yang lebih berfokus pada kepercayaan, transparansi, dan edukasi pasar.





