Pantau - Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan makna Paskah sebagai simbol perjalanan keluar dari kegelapan menuju terang yang juga dianalogikan dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
"Paskah itu selalu berarti eksodus, keluar dari perbudakan menuju tanah terjanji. Atau secara simbolik, keluar dari kegelapan menuju terang," ujar Ignatius Kardinal Suharyo.
Ia mengaitkan makna tersebut dengan perjalanan bangsa Indonesia dari masa penjajahan hingga meraih kemerdekaan.
Kebangkitan Nasional 1908 disebut sebagai awal kesadaran nasional.
Sumpah Pemuda 1928 menjadi tonggak penting dalam memperkuat persatuan bangsa.
Proklamasi Kemerdekaan 1945 menjadi puncak perjuangan bangsa Indonesia.
Penetapan Pancasila juga disebut sebagai dasar negara dalam perjalanan tersebut.
Kardinal menilai perjalanan bangsa setelah kemerdekaan tidak selalu berjalan mulus.
Reformasi 1998 disebut sebagai momentum penting dalam membangun demokrasi dan memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Namun, upaya tersebut dinilai masih menghadapi berbagai tantangan.
Permasalahan seperti kekerasan, kerusakan lingkungan, dan kebohongan publik masih terjadi.
Kondisi tersebut berdampak pada kehidupan masyarakat, terutama kelompok sipil.
Ia juga menyoroti menurunnya daya beli masyarakat serta lesunya aktivitas ekonomi kecil.
Kardinal menegaskan bahwa Paskah bukan untuk meratapi keadaan, tetapi menjadi momentum untuk tetap berjuang.
Ia mengapresiasi berbagai gerakan masyarakat yang menunjukkan kecintaan terhadap bangsa.
"Kita berharap, dengan keyakinan iman dan semangat sebagai bangsa, pada waktunya nanti kita dapat kembali lebih dekat kepada cita-cita kemerdekaan," katanya.




