REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Video makan siang Paskah yang diselenggarakan oleh Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih menimbulkan kegemparan setelah secara tidak sengaja diunggah di situs web Gedung Putih sebelum akhirnya dihapus.
Acara tersebut bersifat tertutup dan diperuntukkan bagi para pemimpin agama serta anggota pemerintahan Presiden Trump, sehingga video yang direkam selama acara tersebut tidak dimaksudkan untuk dipublikasikan.
Baca Juga
Iran Jawab Rumor Kondisi Terkini Mojtaba Khamenei, Begini Perkembangannya
Hizbullah 'Panen' Tank Merkava Israel, Bagaimana Bisa? Ini Rahasianya
Ungkap Dampak Serangan Dahsyat Iran ke Israel, Ini yang Dialami Jurnalis India
Menurut penulis Sarah Baxter, Direktur Pusat Laporan Internasional Mary Colvin, seorang jurnalis berhasil merekam video yang disiarkan di situs tersebut secara utuh. Lalu, apa yang ditakuti oleh pemerintahan AS agar tidak dilihat oleh publik?
Video tersebut—menurut artikel penulis di situs "iPaper" Inggris—menampilkan Trump apa adanya, tanpa penyuntingan, dan mengungkap sisi tak terduga dari kepribadian Presiden AS.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dia menyampaikan pidato selama 40 menit untuk mengaitkan dirinya dengan kebangkitan agama dan politik, dengan menggunakan simbol-simbol Kristen seperti Pekan Suci, guna menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang hampir seperti dewa, bahkan dia merujuk langsung kepada Yesus, yang memicu tawa dan komentar di antara hadirin.
Acara tersebut menyajikan Injil tanpa filter menurut Trump. Pidato berdurasi 40 menitnya dipenuhi dengan candaan sekuler, termasuk sindiran tentang Presiden Emmanuel Macron yang masih pulih dari “pukulan di rahang” yang dilayangkan istrinya, Brigitte, namun pidato itu juga bersifat religius dan secara khusus membahas Pekan Suci.
Trump dikelilingi oleh para pemimpin Kristen yang membuatnya merasa sangat nyaman, yang memujanya, mendoakannya, dan memujinya setinggi langit.
Lalu apa yang dilakukannya? Dia melangkah lebih jauh dari kebiasaannya membandingkan dirinya dengan George Washington dan Abraham Lincoln, dan merujuk pada Yesus sendiri.
“Pada Minggu Palem, Yesus memasuki Yerusalem sementara kerumunan orang menyambut-Nya dengan pujian, memuliakan-Nya sebagai raja. Mereka menyebutku raja sekarang, apakah kalian percaya?” kata Trump, disambut tawa.