OPEC+ Sepakat Kerek Kuota Produksi Minyak Mentah 206.000 Bpd

bisnis.com
18 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyepakati kenaikan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei.

Namun, peningkatan ini dinilai lebih bersifat simbolis, mengingat sejumlah anggota kunci belum mampu mendongkrak output akibat konflik AS-Israel dengan Iran.

Konflik tersebut secara efektif menutup Selat Hormuz sejak akhir Februari, sekaligus memangkas ekspor dari anggota OPEC+ seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Irak.

Melansir Al Jazeera, Senin (6/4/2026), delapan negara anggota OPEC+ yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman menyepakati kenaikan kuota produksi untuk Mei dalam pertemuan virtual.

“Negara-negara akan terus memantau dan mengevaluasi kondisi pasar secara cermat, serta melanjutkan upaya berkelanjutan guna menjaga stabilitas pasar,” demikian pernyataan tersebut.

Delapan negara OPEC+ juga menyampaikan kekhawatiran atas serangan terhadap infrastruktur energi, seraya menekankan bahwa pemulihan aset energi yang rusak hingga kembali beroperasi penuh memerlukan biaya besar dan waktu yang panjang, sehingga berdampak pada ketersediaan pasokan secara keseluruhan.

Baca Juga

  • Pengusaha Mulai Beralih ke Truk Listrik di Tengah Lonjakan Harga Minyak
  • Harga Minyak Melonjak usai Trump Ultimatum Sekutu Cari Pasokan Sendiri
  • Untung Rugi APBN Tanggung Beban Kenaikan Harga Minyak

Kenaikan kuota tersebut hanya mencerminkan kurang dari 2% dari total pasokan yang terganggu akibat penutupan selat. Meski demikian, sumber OPEC+ menyebut komitmen ini mengindikasikan kesiapan untuk meningkatkan produksi setelah jalur pelayaran kembali dibuka.

Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun di tengah eskalasi konflik, mendekati US$120 per barel, yang turut mendorong kenaikan harga bahan bakar transportasi.

Pada Kamis, JPMorgan memperingatkan harga minyak berpotensi melampaui US$150 per barel yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa jika gangguan distribusi melalui Selat Hormuz berlanjut hingga pertengahan Mei.

Kenaikan produksi untuk Mei ini setara dengan kesepakatan April yang dicapai dalam pertemuan terakhir pada 1 Maret. Namun demikian, di tengah perang, gangguan pasokan minyak global diperkirakan mencapai 12–15 juta barel per hari, atau sekitar 15 persen dari total pasokan dunia.

Di tengah penutupan selat, Iran masih memberikan akses terbatas bagi sejumlah negara kawasan. Teheran menyatakan Irak dikecualikan dari pembatasan transit, dengan data pelayaran pada Minggu menunjukkan sebuah kapal tanker bermuatan minyak Irak melintasi Selat Hormuz.

Kementerian Luar Negeri Oman pada Minggu mengungkapkan bahwa pembicaraan setingkat wakil menteri luar negeri tengah berlangsung dengan Iran guna membahas opsi-opsi untuk menjamin kelancaran arus pelayaran di Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan intensitas serangan serta menargetkan infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali pada Senin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Teror Air Keras Jadi Ujian Negara Mengungkap Dalang
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Balapan Berikutnya di Spanyol, Jorge Martin Ingatkan Aprilia Waspadai Kebangkitan Ducati Usai Jeda Panjang MotoGP 2026
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Wadah Makanan Berlapis Minyak Nabati Hadir sebagai Solusi Ramah Lingkungan
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Camat Pasar Rebo Kumpulkan PPSU dan Lurah Kalisari Usai Laporan JAKI Direspons AI
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Antisipasi Korupsi, KPK Perkuat Tata Kelola di 175 Kawasan Industri Nasional
• 6 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.