Saat membeli makanan atau minuman siap saji, pasti kita sering mendapati kemasan makanan yang berbahan kertas bukan? Kemasan ini banyak dipilih karena dinilai lebih aman ketimbang berbahan plastik.
Selain itu, pemilihan kemasan berbahan kertas juga dinilai praktis, ringan, dan harganya relatif terjangkau. Padaha, supaya kemasan kertas tidak bocor saat bersentuhan dengan air atau minyak, tetap saja kertas tersebut dilapisi dengan bahan pelapis.
Saat ini, bahan pelapis kertas kemasan makanan juga didominasi oleh plastik, contohnya polyethylene. Hal ini menyebabkan kemasan tersebut tidak dapat didaur ulang atau dikompos secara sempurna.
Di samping itu, komponen-komponen plastik, seperti plasticizer-nya juga dapat bermigrasi ke dalam makanan atau minuman sehingga bisa memicu berbagai efek negatif bagi kesehatan.
Berangkat dari kondisi tersebut, Zatil Afrah Athaillah, Peneliti Ahli Muda BRIN, mulai mengembangkan metode pelapisan kemasan makanan berbasis minyak nabati. Metode ini bertujuan menghasilkan kemasan yang lebih aman bagi konsumen, dapat didaur ulang, serta menjadi solusi yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
“Saya berharap dari penelitian ini dapat dihasilkan kemasan makanan ataupun minuman yang fully degradable dan juga tidak mengeluarkan bahan-bahan yang berbahaya ke makanan maupun minuman yang dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Zatil seperti dikutip dari laman X BRIN Indonesia.
Penelitian ini pun dilakukan dengan melapisi kertas karton menggunakan berbagai jenis minyak nabati potensial, yaitu minyak biji rami, kacang kenari, kedelai, kemiri, minyak sawit merah, dan minyak zaitun. Hasilnya menunjukkan bahwa minyak nabati mampu memberikan sifat tahan air dan minyak pada kertas.
Hal ini dipengaruhi oleh tingginya kandungan polyunsaturated fatty acid (asam lemak tidak jenuh ganda), sehingga berpotensi menggantikan plastik sebagai bahan pelapis kemasan.
Riset ini juga telah melalui berbagai pengujian, di antaranya uji tetes air dan minyak, uji kekuatan dan elastisitas, uji kekentalan, uji morfologi, serta uji kristalinitas. Metode ini telah didaftarkan sebagai paten di tahun 2025 dengan nomor P00202508952.
Inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kemasan makanan dan minuman yang lebih sehat bagi konsumen sekaligus lebih berkelanjutan bagi lingkungan.





