Bukan Sekadar Upacara: Mengapa 29 Juli Jadi Hari Bakti TNI AU?

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Setiap tanggal 29 Juli, di pangkalan-pangkalan TNI Angkatan Udara dari Sabang hingga Merauke, para prajurit berdiri tegap di lapangan upacara. Seragam biru mereka rapi, langkah kompak, penghormatan khidmat. Pesawat-pesawat tempur melesat di langit dalam formasi kehormatan, sebuah tradisi untuk mengenang mereka yang tak pernah pulang.

Tapi di luar lingkungan militer, seberapa banyak dari kita yang benar-benar tahu apa yang diperingati? Seberapa banyak yang bisa menceritakan kembali peristiwa di balik hari besar ini?

Hari Bakti TNI AU bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Di balik tanggal 29 Juli 1947, tersimpan dua peristiwa yang mengubah sejarah Angkatan Udara Republik Indonesia selamanya. Ada serangan fajar yang mengejutkan Belanda di tiga kota. Ada tiga pahlawan yang gugur di senja yang sama. Ada pesawat Dakota yang jatuh di sawah, membawa mimpi-mimpi yang belum sempat terwujud.

Ini kisah tentang keberanian kadet yang masih hijau, pengorbanan yang tak pernah dihitung, dan sebuah hari yang kemudian ditetapkan sebagai momen pengabdian abadi TNI AU.

Ketika Belanda Mengingkari Janji

Suasana Juli 1947 masih terasa panas, tapi tidak sepanas kemarahan para pejuang muda Indonesia. Negara ini baru berusia dua tahun. Kemerdekaan masih seperti bayi yang belum bisa berjalan sendiri. Namun Belanda, yang enggan melepaskan cengkeramannya, melanggar Perjanjian Linggarjati yang baru saja mereka tandatangani.

Pada 21 Juli 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer I. Pesawat-pesawat mereka membombardir pangkalan udara Republik Indonesia dari Sumatera hingga Jawa. Lapangan-lapangan terbang hancur, pesawat-pesawat terbakar. Hanya Pangkalan Udara Maguwo di Yogyakarta yang selamat karena kabut tebal di pagi hari.

Kemarahan membara di dada para perwira TNI AU. Mereka tak bisa tinggal diam. Mereka harus membalas. Mereka harus membuktikan kepada Belanda bahwa Indonesia juga punya keperkasaan di udara.

Tanggal 28 Juli 1947, sekitar pukul tujuh malam, langit Maguwo gelap tanpa bintang. Di sebuah ruangan sederhana, empat kadet penerbang muda dipanggil menghadap secara rahasia. Mereka adalah Suharnoko Harbani, Sutardjo Sigit, Mulyono, dan Bambang Saptoadji. Masih hijau, masih hangat bangku sekolah penerbang. Tapi mata mereka menyala.

Di hadapan mereka berdiri dua komodor: Komodor Udara Suryadi Suryadarma, Kepala Staf TNI AU, dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma, Wakil Kepala Staf. Suasana tegang. Perintah yang akan diberikan sangat rahasia dan sangat berbahaya.

“Kalian akan menyerang tangsi-tangsi Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa,” kata Suryadarma tegas. “Operasi ini secara militer mungkin takkan membawa pengaruh yang menakjubkan. Tapi secara psikologis, ini akan menjadi pukulan berat bagi Belanda.”

Empat kadet itu hanya mengangguk. Tak ada keraguan. Tak ada rasa takut. Mereka tahu risiko. Jika tertembak, mungkin takkan pernah pulang. Tapi mereka tetap bersiap.

Mereka akan terbang dengan pesawat seadanya. Dua Cureng (Yokosuka K5Y) dan satu Guntei (Mitsubishi Ki-51). Cureng adalah pesawat latih buatan Jepang yang sudah uzur. Guntei adalah pesawat pembom peninggalan Perang Dunia II. Satu pesawat Hayabusha (Nakajima Ki-43) yang direncanakan ikut terbang batal karena kerusakan teknis.

Bom yang mereka bawa juga seadanya: 800 kilogram bom dan dua kotak kayu berisi bom molotov buatan sendiri. Bukan persenjataan yang sebanding dengan musuh. Tapi cukup untuk membuat Belanda ketakutan.

Fajar Menyala di Atas Tiga Kota

29 Juli 1947, pukul setengah lima dini hari. Di Pangkalan Udara Maguwo, suasana sunyi berubah menjadi hiruk-pikuk persiapan. Lampu-lampu mobil diparkir di pinggir landasan sebagai penerangan darurat.

Pukul lima tepat, deru mesin pesawat pertama terdengar. Mulyono bersama penembak udara Dulrachman mengudara lebih dulu dengan Guntei menuju Semarang. Disusul Sutardjo Sigit bersama Sutardjo, penembak udara, dengan Cureng terbang ke Salatiga. Terakhir, Suharnoko Harbani bersama Kaput, penembak udara, dengan Cureng lainnya melesat ke arah Ambarawa.

Bayangkan detik-detik itu. Pesawat-pesawat rapuh buatan Jepang terbang dalam kegelapan subuh, hanya mengandalkan kompas dan insting. Di bawah sana, musuh yang lengkap bersenjata tak menyadari bahwa maut datang dari langit.

Satu per satu, bom dijatuhkan ke tangsi-tangsi militer Belanda. Di Semarang, ledakan mengguncang markas musuh. Di Salatiga, kepanikan merebak. Belum pukul enam pagi, ketiga pesawat sudah kembali mendarat dengan selamat di Maguwo.

Operasi berhasil. Belanda terkejut. Untuk pertama kalinya, Angkatan Udara Republik Indonesia menunjukkan giginya. Ini adalah operasi udara pertama dalam sejarah TNI AU. Dilakukan oleh kadet-kadet yang masih hijau, dengan pesawat-pesawat tua, tapi membawa pesan yang jelas: Indonesia tidak akan pernah menyerah.

Belanda yang semula meremehkan kekuatan udara Indonesia, menganggap remeh para pilot sebagai inlander tak berpengalaman, kini harus menerima kenyataan pahit. Tangsi-tangsi mereka dibom dari udara.

Kisah perjuangan heroik ini diangkat ke dalam film Kadet 1947 (2021).

Senja yang Berubah Menjadi Duka

Kemenangan kecil di pagi hari berubah menjadi duka di sore yang sama.

Pada 29 Juli 1947, sekitar pukul satu siang, sebuah pesawat Dakota VT-CLA lepas landas dari Singapura. Pesawat carteran Palang Merah Malaya ini membawa muatan yang amat berharga: obat-obatan untuk Palang Merah Indonesia. Di dalamnya duduk tiga perwira tinggi TNI AU: Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara Adi Soemarmo Wirjokusumo.

Mereka terbang menuju Pangkalan Udara Maguwo. Setelah tiga jam penerbangan, Dakota mulai menurunkan ketinggian. Roda pendaratan keluar. Maguwo sudah di depan mata.

Tiba-tiba, dari balik awan, meluncur dua pesawat P-40 Kittyhawk milik Belanda. Tanpa peringatan, mereka memberondong Dakota dengan senapan mesin. Pesawat oleng. Mesin kiri terkena tembakan. Asap membubung.

Nasib pilot Alexander Noel Constantine, mantan pilot tempur Australia yang membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia, gugur saat berusaha menyelamatkan pesawat Dakota yang mengangkut obat-obatan untuk rakyat Indonesia, karena sayapnya menghantam pohon. Dakota VT-CLA jatuh di pematang sawah Desa Ngoto, sekitar tiga kilometer di selatan Yogyakarta.

Ketiga perwira TNI AU gugur di tempat. Delapan orang tewas dalam insiden itu. Hanya satu yang selamat: Abdulgani Handonotjokro.

Berita itu menghancurkan TNI AU. Dalam sehari, mereka kehilangan tiga pahlawan sekaligus. Adisucipto, yang dijuluki “Bapak Penerbang Republik Indonesia.” Abdulrachman Saleh, seorang dokter, ilmuwan, dan penerbang ulung. Adi Soemarmo, juru radio andalan yang tak pernah meninggalkan tugasnya.

Dari Duka Menjadi Hari Bakti

Sejak saat itu, luka itu tak pernah benar-benar sembuh. Tapi dari luka itulah lahir semangat baru.

Pada 29 Juli 1955, untuk pertama kalinya, TNI AU memperingati hari itu sebagai “Hari Berkabung AURI”. Sebuah momen untuk mengenang gugurnya tiga perintis angkatan udara. Tujuh tahun kemudian, tepatnya 29 Juli 1962, namanya diubah menjadi “Hari Bhakti TNI AU.” Hari pengabdian–bukan lagi sekadar hari berkabung, tetapi hari untuk menegaskan bahwa pengorbanan para pahlawan harus dilanjutkan dengan pengabdian tanpa henti.

Peringatan ini didasarkan pada dua peristiwa bersejarah di tanggal yang sama. Pertama, serangan udara pertama TNI AU ke Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Bukti keberanian meski dengan persenjataan seadanya. Kedua, gugurnya tiga perwira TNI AU di pesawat Dakota VT-CLA. Simbol pengorbanan tertinggi demi kemanusiaan dan kemerdekaan.

Lokasi jatuhnya pesawat di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta–kini menjadi Monumen Perjuangan TNI AU, diresmikan melalui Surat Keputusan KSAU Nomor Skep/78/VII/2000. Kerangka jenazah ketiga pahlawan nasional itu pun dipindahkan ke pemakaman TNI AU Ngoto, tempat mereka bersemayam hingga kini.

Dua Wajah di Hari yang Sama

Setiap 29 Juli, TNI AU memperingati dua peristiwa sekaligus. Kemenangan dan duka. Keberanian dan pengorbanan. Pagi yang heroik dan senja yang tragis.

Dari peristiwa itu, ada tiga pelajaran yang tak pernah lekang.

Pertama, keberanian tidak ditentukan oleh persenjataan, tetapi oleh hati. Empat kadet dengan pesawat uzur berani menyerang musuh yang jauh lebih kuat. Mereka hanya tahu bahwa Indonesia harus merdeka.

Kedua, pengorbanan tidak selalu datang dari medan perang. Tiga perwira TNI AU gugur dalam misi kemanusiaan, membawa obat-obatan untuk rakyat yang sakit. Mereka mati sebagai pahlawan perang sekaligus pahlawan kemanusiaan.

Ketiga, sebuah hari bisa memiliki dua makna sekaligus. 29 Juli adalah hari kebanggaan atas operasi udara pertama yang berhasil. Juga hari duka atas gugurnya tiga bintang. Tapi TNI AU memilih untuk tidak larut dalam kesedihan. Mereka mengubahnya menjadi Hari Bakti. Hari untuk terus mengabdi, terus terbang, terus menjaga langit Indonesia.

Ketika Langit Memanggil

Maka, setiap kali tanggal 29 Juli tiba, berhentilah sejenak. Bukan hanya untuk membaca berita tentang upacara di pangkalan udara. Tetapi untuk mengingat bahwa di langit Maguwo, yang kini mungkin kita lewati dengan pesawat modern yang nyaman, pernah terjadi pertempuran yang mempertaruhkan harga diri bangsa.

Di fajar itu, para kadet muda menerbangkan pesawat tua dengan bom seadanya ke jantung pertahanan musuh. Di senja itu, pesawat Dakota yang membawa obat-obatan jatuh di sawah, merenggut tiga pahlawan yang mimpi-mimpinya belum sempat terwujud.

Dan nama Adisucipto kini abadi di bandara Yogyakarta. Nama Abdulrachman Saleh abadi di bandara Malang dan di hati setiap insinyur penerbangan Indonesia. Nama Adi Soemarmo abadi di bandara Solo dan di setiap frekuensi radio yang tak pernah berhenti memanggil.

Lain kali jika Anda melihat pesawat melintas di langit, tanyakan dalam hati: siapa yang pertama kali membawa mimpi Indonesia terbang? Dan mengapa tanggal 29 Juli begitu istimewa bagi mereka yang menjaga langit Nusantara?

Biarkan pertanyaan itu membawa Anda pada kisah tentang fajar yang menyala di atas tiga kota, tentang senja yang berubah duka di Desa Ngoto, dan tentang sebuah hari yang tak hanya dikenang sebagai duka, tetapi sebagai pengabdian abadi.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya tinggal di buku. Ia hidup di nama-nama bandara yang kita singgahi, di deru pesawat yang kita tumpangi, dan di pertanyaan kecil yang berani kita ajukan:

Sudahkah kita, di zaman yang jauh lebih nyaman ini, layak menjadi pewaris langit yang mereka pertahankan dengan darah, keringat, dan nyawa?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tak Hanya Kajari Karo, Semua Pihak Diperiksa Kejagung Terkait Kasus Amsal Sitepu
• 1 jam laludisway.id
thumb
“Burung Paling Misterius di Dunia” Muncul di Danau Qiandao, Zhejiang, Tiongkok, Penampilannya Terlihat Garang
• 10 jam laluerabaru.net
thumb
Kemkomdigi: Rating "Indonesia Game Rating System" di Steam Bukan Klasifikasi Resmi
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Kapan Pelaksanaan UTBK SNBT 2026? Cek Jadwal Lengkap dan Bocoran Materinya di Sini
• 7 jam laludisway.id
thumb
Amitabh Bachchan Tetap Aktif di Usia 83, Sehari Tanpa Kerja Bikin Gelisah
• 4 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.