JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah tumpukan sampah yang menggunung di TPS Cakung Timur, Jakarta Timur, ada kegelisahan yang tak hanya soal bau dan limbah.
Ada ingatan yang muncul pelan-pelan tentang masa ketika kondisi serupa disebut tak sempat terjadi.
Seorang petugas pengangkut sampah, Amri (bukan nama sebenarnya), membandingkannya dengan masa lalu tepatnya era Gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok).
“Dulu zaman Ahok mana boleh ada begini (sampah menumpuk), langsung harus dibersihin,” kata Amri, Minggu (5/4/2026).
Baca juga: SPPG Baru di Cakung: Dapur MBG Dekat Sampah, Kini Izinnya Dicabut
Tumpukan sampah di TPS itu tepatnya berada di depan SPPG Cakung Timur.
Lokasi yang kini menjadi sorotan, bukan hanya karena volumenya, tetapi juga posisinya yang dekat fasilitas program makan bergizi gratis (MBG), meski belum beroperasi.
Bagi Amri, persoalan bukan hanya pada sampah yang datang silih berganti, tetapi juga pada alat yang digunakan untuk mengangkutnya.
“Mana mobilnya sudah tua. Kalau jaman Ahok sudah diganti itu,” ujarnya.
Di balik keluhan itu, ada ritme kerja yang makin berat. Terlebih saat Lebaran, ketika produksi sampah rumah tangga meningkat dan ritme pengangkutan tak selalu mampu mengejar.
Kondisi semakin rumit karena operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang belum sepenuhnya pulih.
Baca juga: Sampah Menggunung Setinggi 2 Meter di Depan Bangunan SPPG Cakung Timur
Antrean truk sampah pun mengular, memakan waktu berjam-jam.
“Jadi semuanya di mana-mana Jakarta masih dibatasi. Tadi kalau saya dari jam 09.00 WIB sampai jam 15.00 WIB baru bisa keluar dari Bantargebang,” ungkap Amri.
Waktu yang tersita di jalan dan antrean membuat pekerjaan terasa lebih panjang dari biasanya. Sementara sampah terus datang, tak menunggu.
Gunungan sampah di TPS tersebut sempat menjadi perhatian publik. Namun, sebagian telah diangkut menggunakan enam truk sampah.
Di sisi lain, SPPG yang berada di lokasi itu diketahui belum beroperasi dan perizinannya telah dicabut karena melanggar ketentuan yang berlaku.
Di tengah semua itu, yang tersisa bukan hanya pekerjaan yang belum selesai. Tetapi juga perbandingan yakni antara yang sedang dihadapi, dan yang pernah dirasakan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F04%2F06%2F041b74aa1bfbdf5282d39ac3b4235145-22372.jpg)


