Penulis: Fityan
TVRINews, Jakarta
Ketahanan Pangan Nasional Tetap Stabil di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Pemerintah Indonesia mengumumkan pencapaian signifikan dalam sektor ketahanan pangan nasional.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengonfirmasi bahwa stok cadangan beras pemerintah yang dikelola oleh Perum Bulog saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah republik, yakni mencapai 4,5 juta ton.
Capaian ini dinilai menjadi fondasi kuat bagi Indonesia dalam menjaga stabilitas domestik, terutama saat eskalasi konflik di Timur Tengah mulai memengaruhi peta ekonomi global.
Mentan Amran menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa cemas terkait ketersediaan bahan pokok tersebut.
"Stok beras pemerintah sekarang kurang lebih 4,5 juta ton. Ini tertinggi selama republik ini berdiri. Jadi, tidak perlu diragukan lagi," ujar Amran dalam keterangannya di Jakarta.
Transformasi Kebijakan dan Swasembada Cepat
Lonjakan volume cadangan beras ini disebut sebagai dampak langsung dari kebijakan strategis yang diinstruksikan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Peningkatan produksi dalam waktu satu tahun terakhir merupakan hasil dari kombinasi modernisasi pertanian dan penyesuaian regulasi yang berpihak pada petani.
Menurut Mentan, terdapat beberapa faktor kunci yang mendorong pertumbuhan produktivitas ini:
- timulus Harga : Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.
- Subsidi Input: Penurunan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen.
- Mekanisasi : Transformasi menuju pertanian modern untuk mempercepat masa tanam dan panen.
"Arahan Bapak Presiden Prabowo terbukti efektif meningkatkan produksi secara signifikan hanya dalam waktu singkat," tambah Mentan.
Tantangan Logistik dan Ekspansi Gudang
Besarnya stok yang masuk ke gudang pemerintah bahkan melampaui kapasitas infrastruktur penyimpanan yang ada.
Saat ini, total kapasitas gudang nasional tercatat sebesar 3 juta ton. Untuk mengatasi kelebihan pasokan, pemerintah telah menyewa ruang penyimpanan tambahan sebesar 2 juta ton dan berencana melakukan ekspansi lebih lanjut.
Amran memproyeksikan angka ini akan terus bertambah seiring berjalannya panen dan penyerapan gabah di berbagai wilayah.
Dalam kurun waktu 20 hari ke depan, stok diprediksi menyentuh angka 5 juta ton, bahkan berpotensi mencapai 6 juta ton dalam dua bulan mendatang.
Tren Positif di Tingkat Regional
Lonjakan stok ini tidak hanya terjadi di pusat, tetapi juga merata di tingkat daerah. Sebagai contoh, Sulawesi Selatan melaporkan lonjakan stok menjadi 761 ribu ton, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya yang rata-rata berada di angka 300 ribu ton.
“Dulu gudang-gudang kita kosong bahkan disewakan ke pihak lain. Sekarang kondisinya berbalik, kita justru aktif menyewa gudang tambahan untuk menampung hasil produksi petani,” jelas Amran pada laman Resmi Kementan RI yang dikutip Senin 6 April 2026
Kepastian melimpahnya pasokan pangan ini diklaim telah melalui proses verifikasi lapangan yang ketat untuk menjamin data yang akurat demi menjaga stabilitas pasar dan psikologi konsumen di tengah ketidakpastian global.
Editor: Redaksi TVRINews





