Kawasan ASEAN+3 diproyeksikan tumbuh 4,0 persen pada 2026, meskipun menghadapi tantangan eksternal seperti konflik Iran.
IDXChannel - Kawasan ASEAN+3 diproyeksikan tumbuh 4,0 persen pada 2026, meskipun menghadapi tantangan eksternal seperti konflik Iran dan ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari The Business Times pada Senin (6/4/2026), kawasan ASEAN+3 terdiri dari 11 negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) ditambah China, Jepang, dan Korea Selatan (korsel).
"Kawasan ini didukung oleh pertumbuhan sebelumnya yang lebih kuat dari perkiraan, inflasi rendah, dan peningkatan buffer," kata Badan Penelitian Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO)
Dalam sebuah wawancara, Kepala Ekonom AMRO, Dong He, mengakui bahwa konflik di Timur Tengah memperburuk prospek jangka pendek ASEAN, tetapi negara-negara yang memiliki keandalan logistik, kedalaman pemasok lokal, dan keamanan energi akan diuntungkan.
Ia berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan masih melakukan diversifikasi rantai pasokan ke ASEAN, dan mencatat bahwa kawasan tersebut masih menarik aliran investasi asing langsung yang kuat tahun lalu di bidang elektronik canggih, kendaraan listrik, dan pengemasan semikonduktor meskipun ada ketidakpastian ekonomi makro global.
“Bagi ASEAN sebagai tujuan diversifikasi, proposisinya bergeser dari basis produksi alternatif berbiaya rendah menjadi basis produksi yang tangguh,” katanya.
Lebih dari 35 persen pasokan minyak mentah untuk kawasan ini berasal dari Timur Tengah dan perlu melintasi Selat Hormuz, jalur maritim penting yang saat ini diblokade Iran. (Wahyu Dwi Anggoro)





