Arif berdiri di antara reruntuhan rumahnya yang hancur sebagian, beberapa hari setelah banjir bandang menerjang akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang. Bersama kerabatnya, ia memunguti sisa-sisa kayu dari rumah limasan dan berharap sebagian masih dapat digunakan kembali.
Empat hari setelah banjir, suasana di Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, belum berangsur pulih, Senin (6/4/2026). Warga tampak bergotong royong membersihkan lingkungan, dibantu sukarelawan yang datang sejak beberapa hari terakhir. Lumpur masih menutup sebagian halaman dan akses jalan, sementara material bangunan berserakan di sejumlah titik.
”Saya kumpulkan lagi kayu-kayu karena sebagian besar masih bisa dipakai untuk membangun rumah kembali,” ujar Arif. Ia menyebut, sebagian material rumahnya merupakan kayu jati lama yang telah teruji puluhan tahun warisan dari orangtua.
Tak jauh dari lokasi rumah Arif, sisa-sisa bangunan lain masih tertimbun lumpur. Bekas fondasi, potongan kayu, hingga perabot rumah tangga menjadi penanda kuatnya arus saat banjir datang. Beberapa rumah yang masih berdiri dalam kondisi rusak berat ditinggalkan pemiliknya mengungsi.
Mamat mengisahkan kepanikan yang terjadi saat tanggul mulai jebol. Ia dan keluarganya hanya sempat menyelamatkan diri tanpa membawa harta benda.
”Rumah saya hilang terseret banjir, termasuk rumah bapak. Tidak ada yang bisa diselamatkan,” kata Mamat.
Ia menunjuk lokasi rumahnya yang kini hanya berupa hamparan lumpur. Nasib serupa dialami rumah ayahnya, Fadholi, yang berada tepat di seberang tanggul sungai. Untuk sementara, Mamat bersama keluarganya menempati bangunan yang masih menyisakan atap tanpa dinding. Tempat itu digunakan sebagai hunian darurat sambil menunggu bantuan dan rencana pembangunan kembali.
Banjir yang datang dalam waktu singkat pada Jumat (3/4/2026) menghanyutkan 11 rumah, sementara 16 rumah lainnya mengalami rusak berat. Luapan Sungai Tuntang dengan tekanan air yang besar membuat tanggul tak lagi mampu menahan hingga menyebabkan datangnya bencana.
Sementara itu, sukarelawan juga telah dikerahkan untuk membantu penanganan pascabencana. Mereka membersihkan saluran irigasi serta membuka akses jalan menuju permukiman yang sempat tertutup lumpur. Bantuan logistik mulai disalurkan, antara lain makanan, pakaian layak pakai, air bersih, serta layanan pemeriksaan kesehatan.
Di sisi lain, upaya penanganan tanggul terus dilakukan. Dua alat berat dikerahkan untuk menutup bagian tanggul yang jebol sepanjang sekitar 20 meter. Namun, di beberapa titik lain di sepanjang aliran Sungai Tuntang, potensi kerawanan masih tersisa.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, banjir tersebut merendam sembilan desa di empat kecamatan. Bagi warga, pekerjaan belum benar-benar selesai, mereka masih harus berhadapan dengan sisa lumpur, rumah yang hilang, dan kemungkinan air kembali datang.





