JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Mohamad Arief Syafi’i mengakui Indonesia hingga saat ini belum berdaulat atas data geospasial.
“Kami berharap kita ke depan punya kedaulatan terhadap data ini, Pak. Jujur saja sekarang ini kita belum berdaulat. Jangankan teknologinya Pak, data pun yang punya lengkap sekarang Google Maps, Here Maps, asing semua. Kita enggak menguasai data-data ini,” ujar Arief dalam rapat dengar pendapat terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Satu Data, Senin (6/4/2016).
Baca juga: Konflik Tanah Batas Negara, Seorang Warga Indonesia Kena Tembak Polisi Timor Leste
Dia menjelaskan, teknologi penginderaan jauh saat ini sebenarnya sudah sangat maju. Namun, akses terhadap teknologi dengan resolusi tinggi masih terbatas, terutama untuk versi militer.
“Teknologi penginderaan jauh, satelit sudah sangat maju resolusi tertinggi yang di-publish untuk publik bukan yang versi militer, Pak, itu kita engga bisa akses,” kata dia.
“Untuk civil itu resolusinya 30 cm artinya meja ini sudah bisa kelihatan, Pak, dari satelit, 30 cm itu sudah bisa terlihat,” sambungnya.
Meski demikian, Indonesia menghadapi kendala geografis berupa tutupan awan yang menghambat penggunaan satelit optis.
Oleh karena itu, pemerintah harus mulai mempertimbangkan penggunaan teknologi radar yang mampu menembus awan dan beroperasi siang maupun malam.
Di sisi lain, Arief menilai penggunaan pesawat masih diperlukan untuk menghasilkan peta dengan ketelitian tinggi, terutama pada skala besar.
“Dengan teknologi pesawat ini bukan hanya resolusi yang bisa kita tinggikan bisa sampai 8 cm, Pak, yang 1000 itu butuh 8 cm. Resolusinya, berarti gelas ini bisa dapat, Pak, tapi juga ketelitian posisinya,” kata dia.
“Kalau satelit ini bisa melenceng meteran, Pak, jauh. Dengan teknologi pesawat ini bukan hanya resolusi yang bisa kita tinggikan tapi juga ketelitian posisinya. Nah ini yg blm bisa dicapai satelit hanya bisa dicapai pesawat terbang,” sambungnya.
Baca juga: Ketua Komisi II DPR Usul Lahan Batas Negara Dijadikan Kebun Sawit
Dalam kesempatan itu, Arief juga menekankan pentingnya kemandirian dalam penguasaan satelit untuk mendukung kebutuhan strategis, termasuk pembaruan data secara cepat.
“Kita harus mandiri secara teknologi, kita harus bangun satelit sendiri,” kata Arief.
Dia pun mengingatkan pentingnya data geospasial dalam konteks pertahanan, dengan mencontohkan penggunaan citra satelit dalam konflik antarnegara.
Arief menegaskan, selain untuk pemetaan, keberadaan satelit juga penting untuk memperbarui data secara berkala dengan cakupan luas dan waktu yang cepat.
“Kalau kita enggak punya ini peluru kita bisa nyasar ke mana-mana,” jelas dia.





