Risiko Karhutla Meningkat Tahun Ini, Imbas Kemarau Kering dan Panjang

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kehutanan mengantisipasi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih besar, imbas dari musim kemarau tahun ini yang diperkirakan datang lebih dini dan berlangsung panjang.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni setelah rapat koordinasi karhutla dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengemukakan Indonesia diperkirakan menghadapi musim kemarau yang datang lebih awal dengan intensitas hujan yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini membawa risiko karhutla yang lebih besar di sejumlah wilayah.

“Oleh karena itu, kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan dibanding tahun lalu, pada 2026 ini akan lebih mengancam kita secara bersama,” kata Raja Juli, Senin (6/4/2026).

Kementerian Kehutanan telah mengidentifikasi kemarau yang disertai fenomena kebakaran lahan di Riau dan Kalimantan Barat. Raja Juli mengatakan peristiwa karhutla disertai dengan pola yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni penggunaan api untuk membuka lahan.

“Praktik ini sangat berbahaya, dan kami telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian agar tindakan penegakan hukum segera dilakukan. Beberapa kasus juga sudah mulai diproses. Intinya, masyarakat harus lebih waspada dan berhati-hati, terutama dalam kegiatan pembukaan lahan,” paparnya.

Berdasarkan hasil penghitungan luas areal karhutla menggunakan citra satelit, Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla periode Januari–Februari 2026 mencapai 32.637,43 hektare. Lima provinsi dengan luas kejadian kebakaran tertinggi berturut-turut adalah Kalimantan Barat (10.601,85 ha), Riau (4.440,20 ha), Sulawesi Tengah (3.797,66 ha), Lampung (3.314,74 ha), dan Kalimantan Tengah (1.975,01 ha).

Baca Juga

  • BMKG Peringatkan Karhutla di Tengah Kelembapan Tinggi
  • Tim Gabungan Intensifkan Pemadaman Ratusan Hektare Karhutla di Tiga Wilayah Riau
  • Karhutla di Dumai Meningkat, Pertamina Hibahkan Nozzle Gambut

Sementara itu berdasarkan prakiraan iklim 2026 dari BMKG, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral di wilayah Indonesia per Maret 2026. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026.

“Musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang. Selain itu, curah hujan selama musim kemarau diperkirakan berada di bawah normal, jika dibandingkan dengan rata-rata kondisi hujan selama 30 tahun terakhir,” papar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.

Faisal mengemukakan hal ini menjadi indikasi bahwa hujan pada musim kemarau tahun ini cenderung lebih sedikit jika dibandingkan dengan pola klimatologis jangka panjang. Hal ini juga merupakan kontribusi dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia.

“Kondisi ini tentu perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.

BMKG mencatat hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7% Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.

Sejalan dengan kondisi tersebut, pantauan hotspot melalui website Sipongi dengan Satelit NASA-Terra/Aqua dengan confidence level tinggi memperlihatkan volume titik panas sebanyak 702 titik pada periode 1 Januari–5 April 2026, naik 82,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 125 titik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Progres Rehab-Rekon Sumatra Positif, Pemerintah Siap Percepat Tahap Lanjutan
• 50 menit lalutvrinews.com
thumb
OJK: Pinjaman daring masyarakat tembus Rp100,7 triliun per Februari
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Sampah Masih Menumpuk di Pasar Kramat Jati, Pramono Targetkan Bersih dalam 7-8 Hari
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
Mentan Yakin RI Tahan Dampak El Nino, Stok Beras 4,5 Juta Ton
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Garda Revolusi Iran Bersiap Terapkan Tatanan Baru di Selat Hormuz
• 5 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.