Depok, tvOnenews.com - Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) melalui Laboratorium Sejarah beberapa waktu lalu sukses kembali menyelenggarakan kegiatan diskusi akademik dalam rangkaian Seri Bincang Sejarah (SBS).
Agenda ini merupakan diskusi rutin yang dilakukan sebagai ruang pertukaran gagasan, pengembangan penelitian, serta penguatan jejaring akademik di bidang sejarah. Pada kesempatan kali ini, Seri Bincang Sejarah mengangkat tema ‘Pembentukan Sains Kolonial Jepang di Jawa: Nampo Kagaku dan Mobilisasi Sumber Daya’.
Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 12 Maret 2026, pukul 14.00-16.00 WIB, bertempat di Auditorium Toety Heraty Noerhadi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Agenda ini menghadirkan Prof. Dr. Kazuo Kobayashi, Dekan Fakultas Sastra Universitas Soka, Jepang, sebagai pembicara utama. Diskusi juga diperkaya oleh Dr. Dwi Mulyatari, S.S., M.A., dosen Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, yang bertindak sebagai pemantik diskusi.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, serta masyarakat yang memiliki minat terhadap kajian sejarah Jepang. Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Kazuo Kobayashi mengulas pembentukan sains kolonial Jepang di Jawa melalui konsep Nampo Kagaku atau Ilmu Pengetahuan Selatan.
Ia menjelaskan bahwa selama masa pendudukan Jepang di wilayah yang kini menjadi Indonesia, khususnya di Jawa, ilmu pengetahuan memainkan peran penting dalam strategi kolonial Jepang. Jepang tidak hanya memanfaatkan struktur kolonial yang telah dibangun sebelumnya oleh pemerintah Hindia Belanda, tetapi juga mengembangkan pendekatan baru melalui mobilisasi penelitian ilmiah yang terarah dan sistematis.
Menurut Prof. Kobayashi, Nampo Kagaku dikembangkan sebagai kerangka ilmiah untuk memahami kondisi geografis, sumber daya alam, serta potensi manusia di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penelitian yang dilakukan mencakup berbagai bidang, seperti pertanian, geologi, kehutanan, kesehatan, serta sumber daya industri.
Hasil penelitian tersebut kemudian digunakan untuk mendukung kepentingan ekonomi dan militer Jepang selama masa perang di kawasan Asia-Pasifik. Lebih lanjut, Prof. Kobayashi menekankan bahwa sains pada masa pendudukan Jepang tidak dapat dipahami sebagai aktivitas yang netral. Ia menyimpulkan bahwa sains dijadikan sebagai salah satu proyek mobilisasi Jepang dalam rangka memperkuat kontrol kolonial serta mendukung kebutuhan perang.




