FAJAR, SEMARANG –Kemenangan tipis yang diraih PS Barito Putera atas PSIS Semarang bukan sekadar hasil pertandingan biasa. Laga di Stadion Jatidiri pada Minggu sore itu memperlihatkan perbedaan kualitas mental, pengalaman, dan yang paling terasa—DNA juara yang kini mulai mengakar kuat di tubuh Laskar Antasari.
Dalam duel lanjutan Championship 2025/2026 tersebut, Barito tampil efektif dan disiplin. Satu gol dari Bayu Pradana Andriatmoko pada menit ke-24 menjadi pembeda. Gol itu bukan hanya soal penyelesaian akhir, tetapi juga mencerminkan ketenangan dan insting pemain yang tahu betul bagaimana memanfaatkan momentum dalam pertandingan besar.
Sejak peluit awal dibunyikan, PSIS sebenarnya tidak tampil buruk. Bermain di hadapan pendukung sendiri, Mahesa Jenar langsung mengambil inisiatif serangan. Intensitas permainan tinggi diperlihatkan, dengan beberapa peluang yang mampu merepotkan lini belakang Barito. Namun di sinilah letak perbedaan utama: efektivitas dan kematangan.
Barito Putera tidak perlu mendominasi penguasaan bola untuk mengendalikan pertandingan. Mereka tahu kapan harus menekan, kapan bertahan, dan bagaimana menjaga ritme permainan tetap dalam kendali. Setelah unggul, pendekatan permainan berubah menjadi lebih pragmatis—rapat di belakang, sabar menunggu celah, dan meminimalisir kesalahan.
Peran sosok pelatih Alessandro Stefano Cugurra Rodrigues atau Teco menjadi kunci dalam transformasi ini. Pelatih asal Brasil tersebut bukan nama asing dalam urusan membangun tim juara. Jejaknya di sepak bola Indonesia sudah teruji, termasuk saat membawa Persija Jakarta dan Bali United meraih gelar liga.
Apa yang kini terlihat di Barito Putera adalah refleksi dari filosofi dan pengalaman panjang Teco. Ia tidak hanya membangun tim yang kuat secara taktik, tetapi juga menanamkan mentalitas pemenang. Dalam banyak pertandingan, terutama yang berlangsung ketat seperti melawan PSIS, faktor mental sering kali menjadi pembeda utama.
Teco sendiri mengakui bahwa laga ini tidak mudah. Ia sudah memprediksi tekanan besar dari tuan rumah. Namun ia juga tahu bahwa timnya memiliki kapasitas untuk mengatasi situasi tersebut. Dan benar saja, ketika PSIS mencoba meningkatkan intensitas serangan di babak kedua, Barito justru semakin solid.
Disiplin lini belakang menjadi salah satu sorotan utama. Koordinasi antarpemain berjalan baik, dengan transisi bertahan yang cepat dan efektif. PSIS memang menciptakan peluang, tetapi tidak ada yang benar-benar mampu mengoyak pertahanan Barito secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa organisasi permainan Barito sudah berada pada level yang matang.
Selain itu, kontribusi pemain seperti Basajum Latuconsina juga patut diapresiasi. Ia menegaskan bahwa kemenangan ini merupakan hasil dari kerja keras tim secara kolektif. Pernyataan tersebut mencerminkan atmosfer positif di dalam skuad—bahwa setiap pemain memahami perannya dan berkontribusi maksimal.
Dari sisi klasemen, kemenangan ini sangat krusial. Barito kini mengoleksi 45 poin dan terus menempel ketat Persipura Jayapura yang berada di posisi kedua. Bahkan jarak dengan pemuncak klasemen, PSS Sleman, masih dalam jangkauan.
Persaingan menuju promosi ke kasta tertinggi pun semakin menarik. Setiap poin menjadi sangat berharga, dan konsistensi akan menjadi faktor penentu. Dalam konteks ini, Barito Putera tampak memiliki keunggulan—bukan hanya dari segi kualitas pemain, tetapi juga pengalaman dalam menghadapi tekanan.
Inilah yang dimaksud dengan “DNA juara”. Sebuah kombinasi antara pengalaman, mentalitas, dan kemampuan mengambil keputusan tepat di momen krusial. Teco membawa warisan itu dari keberhasilannya bersama Persija dan Bali United, lalu menanamkannya di Barito Putera.
Sebaliknya, PSIS Semarang terlihat masih mencari bentuk terbaiknya dalam situasi seperti ini. Mereka memiliki semangat dan dukungan suporter yang luar biasa, tetapi dalam laga-laga ketat, dibutuhkan lebih dari sekadar agresivitas. Diperlukan ketenangan, efisiensi, dan kemampuan membaca permainan secara lebih matang.
Kekalahan ini menjadi pelajaran penting bagi PSIS. Bahwa untuk bersaing di level atas, mereka harus mampu meningkatkan kualitas permainan di kedua sisi—baik menyerang maupun bertahan—serta memperkuat mental dalam menghadapi tekanan.
Sementara itu, bagi Barito Putera, kemenangan ini adalah sinyal kuat bahwa mereka bukan sekadar pesaing, tetapi kandidat serius untuk promosi. Dengan tren positif yang terus terjaga dan fondasi tim yang semakin solid, peluang mereka untuk kembali ke kasta tertinggi terbuka lebar.
Jika konsistensi ini mampu dipertahankan hingga akhir musim, bukan tidak mungkin Barito Putera akan kembali mencicipi atmosfer kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia—dengan membawa identitas baru sebagai tim yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga bermental juara.





