Jakarta (ANTARA) - Duta Rumah Autis Marcella Zalianty mendorong perluasan cakupan pelayanan skrining jantung bagi anak difabel dan anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbatasan dalam menyampaikan kondisi kesehatan mereka.
"Anak-anak autis ini sangat rentan karena mereka tidak bisa mengutarakan ketika mereka sakit," kata Marcella saat menghadiri kegiatan skrining jantung yang digelar oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Jakarta, Senin.
"Kita tidak tahu apakah ada serangan jantung karena mereka tidak bisa menyampaikan keluhan," katanya.
Marcella menyampaikan pentingnya deteksi dini penyakit jantung melalui skrining pada anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Kegiatan pemeriksaan jantung gratis seperti yang dilakukan oleh IDAI, menurut dia, sangat membantu keluarga dengan anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbatasan akses dan biaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
"Skrining seperti ini tidak murah, jadi kesempatan gratis ini sangat berarti bagi mereka," kata dia.
Baca juga: Waspadai radang tenggorok yang bisa picu masalah jantung pada anak
Marcella berharap program pelayanan skrining gratis tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi diperluas ke berbagai daerah agar menjangkau lebih banyak anak dengan kebutuhan khusus.
"Tidak hanya di Jakarta, anak-anak di daerah juga harus bisa mendapatkan pemeriksaan ini," ujarnya.
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso juga menyampaikan pentingnya penyediaan layanan skrining jantung bagi anak-anak dengan disabilitas.
"Sekitar setengah anak down syndrome itu punya kelainan jantung bawaan, jadi justru perlu skrining," katanya.
Ia menyampaikan bahwa IDAI mengadakan layanan skrining echocardiography gratis dalam upaya untuk meningkatkan akses anak-anak difabel terhadap pelayanan pemeriksaan kesehatan.
"Kalau bayar sendiri bisa di atas Rp1 juta, sementara kalau BPJS juga antreannya panjang," kata dia.
Baca juga: Anak sindrom down perlu jalani skrining penyakit jantung
Baca juga: Batuk dan panas berulang pada anak bisa jadi indikasi penyakit jantung
"Anak-anak autis ini sangat rentan karena mereka tidak bisa mengutarakan ketika mereka sakit," kata Marcella saat menghadiri kegiatan skrining jantung yang digelar oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Jakarta, Senin.
"Kita tidak tahu apakah ada serangan jantung karena mereka tidak bisa menyampaikan keluhan," katanya.
Marcella menyampaikan pentingnya deteksi dini penyakit jantung melalui skrining pada anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Kegiatan pemeriksaan jantung gratis seperti yang dilakukan oleh IDAI, menurut dia, sangat membantu keluarga dengan anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbatasan akses dan biaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
"Skrining seperti ini tidak murah, jadi kesempatan gratis ini sangat berarti bagi mereka," kata dia.
Baca juga: Waspadai radang tenggorok yang bisa picu masalah jantung pada anak
Marcella berharap program pelayanan skrining gratis tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi diperluas ke berbagai daerah agar menjangkau lebih banyak anak dengan kebutuhan khusus.
"Tidak hanya di Jakarta, anak-anak di daerah juga harus bisa mendapatkan pemeriksaan ini," ujarnya.
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso juga menyampaikan pentingnya penyediaan layanan skrining jantung bagi anak-anak dengan disabilitas.
"Sekitar setengah anak down syndrome itu punya kelainan jantung bawaan, jadi justru perlu skrining," katanya.
Ia menyampaikan bahwa IDAI mengadakan layanan skrining echocardiography gratis dalam upaya untuk meningkatkan akses anak-anak difabel terhadap pelayanan pemeriksaan kesehatan.
"Kalau bayar sendiri bisa di atas Rp1 juta, sementara kalau BPJS juga antreannya panjang," kata dia.
Baca juga: Anak sindrom down perlu jalani skrining penyakit jantung
Baca juga: Batuk dan panas berulang pada anak bisa jadi indikasi penyakit jantung





