YAYASAN Satriabudi Dharma Setia (YSDS) resmi menjalin kemitraan strategis dengan Ultima Genomics, Inc. untuk merevolusi lanskap kesehatan di Asia Tenggara. Kolaborasi ini berfokus pada pengembangan peta jalan sequencing genomik melalui pemanfaatan teknologi mutakhir UG200 Series, dengan target ambisius melakukan sequencing hingga satu juta genom di kawasan tersebut.
Langkah ini mendapat apresiasi positif dari Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Menurutnya, kerja sama ini merupakan momentum krusial dalam mempercepat adopsi teknologi genomik untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis teknologi di tanah air.
“Dengan teknologi yang lebih terjangkau, masyarakat bisa mendapatkan diagnosis yang lebih akurat dan pengobatan yang lebih tepat,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin pada Senin (6/4/2026).
Baca juga : AI Kini Dapat Percepat Diagnosis Penyakit Langka yang Menimpa 300 Juta Orang
Pemerintah berharap kolaborasi ini dapat membantu visi Kementerian Kesehatan dalam melakukan whole genome sequencing bagi 200.000 orang Indonesia guna membangun referensi genom nasional dan mendukung pengobatan presisi.
Solusi Biaya Tinggi dalam Riset GenomikSelama ini, biaya tinggi menjadi hambatan utama dalam pengembangan riset dan layanan genomik di Indonesia dan Asia Tenggara. Kehadiran teknologi UG200 Series dari Ultima Genomics diproyeksikan mampu memangkas biaya secara signifikan, sehingga memungkinkan penggunaan dalam skala besar.
Dalam kemitraan ini, Ultima Genomics berperan sebagai penyedia teknologi sequencing berkapasitas ultra-tinggi. Sementara itu, YSDS bertindak sebagai mitra lokal yang mengelola implementasi di Indonesia melalui program IGNITE, mencakup penyediaan infrastruktur laboratorium hingga kolaborasi dengan berbagai rumah sakit.
Baca juga : Pupuk Indonesia Inisiasi Pembentukan Asosiasi Pupuk di ASEAN
Ketua YSDS, Dr. Vincentius Simeon Weo Budhyanto, menegaskan bahwa kolaborasi ini memastikan populasi Asia Tenggara terwakili dalam database genomik global. Selain kesehatan manusia, riset ini juga akan mencakup sektor pertanian dan biodiversitas.
“Ini adalah langkah penting agar Indonesia tidak tertinggal. Kami ingin membuka akses yang lebih merata terhadap pengobatan presisi,” kata Dr. Vincent. Ia juga menjamin bahwa pengelolaan data genomik akan dilakukan dengan standar keamanan tinggi. Data akan disimpan di dalam negeri (Mata Uang Rupiah digunakan dalam operasional domestik), dianonimkan, dan dilindungi enkripsi sesuai regulasi perlindungan data yang berlaku.
Jay Therrien, Ph.D., Chief Commercial Officer Ultima Genomics, menambahkan bahwa misi perusahaan adalah mendemokrasi akses sequencing genomik secara global. “Bermitra dengan YSDS memungkinkan kami menghadirkan teknologi ini ke wilayah yang selama ini kurang terlayani karena keterbatasan akses,” ungkapnya.
Target Jangka PanjangImplementasi awal akan dimulai melalui proyek pilot dan validasi klinis yang berfokus pada deteksi dini kanker serta penyakit tidak menular. Dalam jangka panjang, kolaborasi ini bertujuan membangun biobank atau basis data genetik populasi Indonesia.
Sebagai early adopter teknologi UG200 Series di Asia Tenggara, YSDS menargetkan pencapaian sequencing lebih dari satu juta genom per tahun dalam rentang waktu 5 hingga 15 tahun ke depan. Hal ini diharapkan dapat menekan efek samping obat dan membantu pelacakan sejarah penyakit endemik di Indonesia secara lebih efektif. (Z-1)




