FOMO dan Budaya Ikut-ikutan: Mengapa Kita Mudah Terpengaruh Tren?

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Pernahkah kita membeli sesuatu hanya karena sedang tren di media sosial, tanpa benar-benar tahu manfaat dan risikonya? Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital, ketika informasi menyebar begitu cepat dan tekanan untuk “tidak tertinggal” semakin kuat. Kondisi ini memunculkan berbagai fenomena sosial, salah satunya Fear of Missing Out (FOMO), yang masih banyak terjadi hingga saat ini.

FOMO merupakan perasaan cemas dan takut tertinggal dari informasi, tren, ataupun pengalaman orang lain sehingga kebanyakan orang terdorong untuk mengikuti apa saja yang sedang populer di media sosial tanpa berpikir panjang. Namun dengan kondisi ini, kebanyakan orang mengambil keputusan yang impulsif tanpa menimbang validitas dari informasi yang diterima.

Dalam perspektif logika penyelidikan ilmiah, semua informasi harus melewati tahap sistematis, seperti observasi, identifikasi masalah, mengumpulkan data, analisis data, sampai penarikan kesimpulan. Kebenaran ilmiah ini tidak ditentukan oleh tren suatu informasi, tapi dari kuatnya bukti pendukung dan harus didasari pada bukti yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bukan hanya "kata orang banyak". Maka dari itu, sangat penting bagi pengguna media sosial untuk berpikir kritis untuk bisa menyaring informasi yang beredar. Namun, kenyataannya, fenomena FOMO sangat mudah menghambat kita untuk berpikir kritis karena kita cenderung mengambil keputusan secara instan tanpa menganalisis informasi tersebut. Terkadang informasi bisa dianggap benar hanya karena dipercaya dan diikuti banyak orang. Sayangnya, sesuatu yang viral sering kali dianggap benar hanya karena banyak diikuti, bukan karena terbukti secara ilmiah. Fenomena FOMO akan sangat mudah membuat kita terpengaruh dengan informasi yang tidak benar. Hal ini menunjukkan bahwa FOMO dapat menghambat kita untuk menerapkan logika ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.

FOMO dalam Tren Konsumsi di Media Sosial

Contoh nyata dari fenomena FOMO ini adalah meningkatnya konsumsi suplemen diet di kalangan remaja. Suplemen diet ini biasanya berbentuk pil atau kapsul yang mengandung bahan kimia tertentu yang diklaim mampu menurunkan berat badan secara instan. Padahal, sebenarnya jika suplemen ini dikonsumsi tanpa dosis yang benar dan tanpa pengawasan dari pihak yang berwenang, maka suplemen ini dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Banyak penelitian menyatakan jika penggunaan suplemen diet secara tidak tepat dapat mengganggu sistem metabolisme tubuh dan berdampak langsung pada fungsi organ tubuh dalam jangka waktu yang panjang.

FOMO tidak hanya mempengaruhi perilaku sosial, namun juga mempengaruhi cara kita melihat dan menilai diri kita sendiri, khususnya hal yang dapat dilihat secara kasat mata, seperti penampilan fisik. Paparan konten dari media sosial membuat standar tubuh ideal banyak menarik rasa tidak percaya diri pada remaja. Hal ini membuat mereka yang terpapar bertekad untuk mencapai standar tersebut dengan cara apapun, misalnya, kecenderungan mengikuti tren diet instan dengan mengonsumsi suplemen diet tanpa mempertimbangkan aspek keamanan dari suplemen tersebut dan kebenaran informasi atau tren yang beredar. Banyak orang yang terdorong FOMO untuk mengonsumsi suplemen diet instan ini karena melihat testimoni dan promosi yang menawarkan penurunan berat badan secara cepat. Tidak melalui proses berpikir yang panjang dan tanpa mencari tahu kebenarannya, mereka cenderung menerima dan mempercayai tren tersebut dan langsung mengikutinya.

Fenomena ini menjadi semakin rumit karena kita biasa lebih berfokus pada hasil yang instan dibandingkan resiko kesehatan jangka panjang yang bisa saja terjadi. Keputusan kita untuk mengonsumsi suplemen diet ini didukung oleh keinginan untuk tidak tertinggal tren yang sedang populer di media sosial, tidak berdasarkan pertimbangan yang baik dan dengan kebenaran ilmiah. Maka, bisa dikatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi masyarakat adalah FOMO tren di media sosial.

Lalu, apakah fenomena ini dapat dihentikan? Fenomena ini tidak dapat kita hentikan karena sebagian besar dari kita sekarang adalah pengguna aktif media sosial dan kita tidak dapat mengontrol apa yang tersebar di media sosial sehingga kita tidak dapat menghindari paparan tren yang ada di media sosial. Kita memang tidak bisa menghindari fenomena ini, namun kita bisa menghadapinya dengan cara yang bijak.

Untuk menghadapi fenomena FOMO ini, kemampuan berpikir kritis diperlukan, khususnya untuk para pengguna sosial media. Hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi fenomena ini antara lain:

1. Membiasakan diri untuk tidak langsung mempercayai informasi yang berasal dari media sosial.

2. Mencari tahu kebenaran dari setiap informasi yang didapatkan dari media sosial.

3. Mempertimbangkan manfaat dan dampak sebelum mengikuti sesuatu yang berasal dari media sosial.

4. Belajar mempertanyakan bukti ilmiah setiap klaim yang bersifat instan, terutama yang berkaitan dengan kesehatan.

5. Bertanya sebelum mengonsumsi suatu produk kepada pihak yang lebih tahu dan kompeten di bidang yang bersangkutan.

6, Meningkatkan literasi ilmiah agar kita mampu memahami dasar logika penyelidikan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.

Dan pada akhirnya, fenomena FOMO tidak hanya soal pengguna sosial media yang ikut-ikutan tren, tetapi tentang bagaimana cara kita memproses suatu informasi yang didapatkan. Ketika berpikir kritis tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka keputusan yang diambil dapat menimbulkan dampak negatif dan merugikan kita yang bisa saja terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena itu, kita membutuhkan keseimbangan untuk hidup di era yang terus mengalami perkembangan zaman dan penerapan proses berpikir kritis menjadi pokok penting dalam menghadapi era digital sekarang ini.

Dengan berpikir kritis, kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, juga mengambil keputusan yang lebih bijak. Kemampuan berpikir kritis tidak hanya menjadi keterampilan akademik, tetapi juga menjadi hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Melalui penguatan dan penerapan proses berpikir kritis, kita diharapkan tidak mudah terjebak dalam fenomena FOMO dan mampu mengambil keputusan yang lebih bijak dan rasional di tengah berkembang pesatnya arus informasi sekarang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sultan HB X Sebut Pengawasan jadi Tantangan Utama WFH untuk ASN
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Soal Isu ”Reshuffle” Kabinet, Teddy: Tunggu Saja!
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Oscar Piastri Sebut McLaren Mulai Ancam Dominasi Papan Atas Formula 1 2026
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kemendagri Pastikan Kontrak PPPK Berlanjut dan Belanja Pegawai Tetap Ideal
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Penyebab Empat Pekerja Bangunan Tewas di Jakarta Selatan Akhirnya Terungkap, Ternyata Karena Sesak Napas
• 10 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.