Penelitian terbaru dari Division of Clinical Geriatrics, Department of Neurobiology, Care Sciences and Society, Karolinska Institutet, Swedia yang diterbitkan di JAMA Network Open mengungkapkan temuan mengejutkan mengenai hubungan antara pola makan dan kesehatan otak.
Studi ini menunjukkan bahwa konsumsi daging yang lebih tinggi ternyata berkaitan dengan penurunan risiko demensia dan perlambatan penurunan kognitif, namun manfaat ini hanya ditemukan secara spesifik pada individu yang memiliki varian genetik tertentu, yaitu genotipe APOE ε3/ε4 atau ε4/ε4. Gen ini dikenal sebagai faktor risiko genetik utama untuk penyakit Alzheimer, yang biasanya membuat pemiliknya lebih rentan terhadap penurunan daya ingat seiring bertambahnya usia.
Penelitian ini melibatkan 2.157 lansia berusia 60 tahun ke atas di Stockholm yang dipantau selama 15 tahun. Para peneliti menganalisis data konsumsi daging peserta melalui kuesioner frekuensi makanan yang divalidasi dan memantau perubahan fungsi kognitif mereka, termasuk memori episodik dan kecepatan persepsi.
Selama masa pengamatan, sebanyak 296 peserta didiagnosis menderita demensia. Tim ahli kemudian mengelompokkan peserta berdasarkan status genetik APOE mereka untuk melihat apakah diet memberikan dampak yang berbeda pada setiap kelompok. Hasilnya menunjukkan bahwa pemilik gen APOE34/44 yang mengonsumsi daging dalam jumlah tertinggi memiliki risiko demensia 55% lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsi daging dalam jumlah paling rendah.
Sebaliknya, pada individu dengan genotipe lain (seperti APOE33 atau APOE2), tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi daging dengan kesehatan kognitif mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi untuk menjaga fungsi otak mungkin sangat dipengaruhi oleh profil genetik masing-masing individu.
Secara evolusioner, para peneliti berhipotesis bahwa gen APOE4 merupakan bentuk gen leluhur manusia yang muncul saat manusia purba beralih ke pola makan tinggi daging. Oleh karena itu, individu dengan gen ini mungkin memiliki adaptasi biologis yang membuat mereka membutuhkan nutrisi spesifik dari daging untuk kebutuhan fungsi otak yang optimal.
Temuan ini menjadi kontradiktif dengan pedoman diet umum yang seringkali menyarankan pengurangan konsumsi daging secara menyeluruh, karena bagi seperempat populasi dunia yang membawa gen APOE4, konsumsi daging justru bisa menjadi faktor pelindung fungsi kognitif. Meskipun daging secara umum memberikan manfaat pada kelompok genetik tertentu, penelitian ini juga memberikan alarm peringatan penting mengenai jenis daging yang dikonsumsi.
Analisis data menunjukkan bahwa rasio daging olahan yang tinggi (seperti sosis atau daging kaleng) tetap berhubungan negatif dengan risiko demensia, tanpa memandang jenis genetik seseorang. Hal ini menegaskan bahwa manfaat yang diamati adalah berasal dari daging segar atau tidak diolah, sementara daging olahan tetap berisiko bagi kesehatan otak secara keseluruhan.
Kesimpulannya, studi ini menekankan pentingnya strategi pencegahan demensia yang lebih personal berdasarkan informasi genetik. Bagi individu dengan gen risiko Alzheimer, pemenuhan asupan daging berkualitas dalam diet sehari-hari mungkin menjadi kunci untuk menjaga ketajaman mental di masa tua. Namun, masyarakat tetap disarankan untuk memprioritaskan daging alami dibandingkan produk olahan guna mendapatkan manfaat kesehatan yang maksimal.





