Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penurunan. Rupiah tertekan meski dolar AS juga mengalami penurunan imbas konflik AS-Iran.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 7 April 2026, rupiah berada di level Rp17.076 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 41 poin atau setara 0,24 persen dari Rp17.035 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.032 per USD. Rupiah terpantau melemah dibandingkan kemarin yang sebesar Rp17.010 per USD.
Baca Juga :
Ketidakpastian Konflik Bikin Dolar AS Tersungkur(Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Eko Nordiansyah) Rupiah fluktuatif namun melemah Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah pada hari ini. Mata uang Garuda bergerak di rentang Rp17.030 per USD hingga Rp17.080 per USD.
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen investor yang fokus pada tenggat waktu Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Trump memperingatkan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz paling lambat Selasa (7/4), untuk lalu lintas kapal tanker agar dapat kembali beroperasi melalui jalur air strategis tersebut.
Sementara itu, Juru Bicara Presiden Iran Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei mengatakan transit melalui selat tersebut hanya dapat dilanjutkan jika sebagian pendapatan dialokasikan untuk mengkompensasi Iran atas kerusakan terkait perang.
Ancaman tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di Teluk, di mana pengiriman barang tetap sangat terbatas selama beberapa minggu.
"Meningkatnya kembali harga minyak mentah juga memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan, dengan biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika Selat Hormuz tetap diblokir," terang Ibrahim.
Sementara itu Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka defisit ini lebih besar dibanding realisasi pada periode yang sama tahun lalu, yakni hanya Rp99,8 triliun atau 0,41 persen terhadap PDB. Pemerintah menargetkan batas atas defisit APBN 2026 mencapai 2,68 persen terhadap PDB.




