JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah riuhnya Pasar Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, wajah para pedagang plastik terlihat begitu cemas.
Mereka harus menelan pil pahit karena banyak pembeli yang gagal membeli plastik di tokonya karena harganya yang terus meroket.
Menurut salah satu pedagang plastik bernama Ipang (22), kenaikan sudah dimulai sebelum bulan Ramadhan.
"Benar kesal karena meroket tajam dari sebelum bulan puasa," ungkap Ipang ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Senin (6/4/2026).
Ipang bilang, hampir semua jenis plastik harganya terus mengalami kenaikan hingga saat ini, mulai dari plastik bermerek Tomat, Dayak, POLO, Tiger, dan lain sebagainya.
Baca juga: Harga Plastik Naik, Pemerintah Diminta Intervensi karena UMKM Tertekan dan Dilema
Plastik Tomat dari harga Rp 49.000 menjadi Rp 73.000 per ikatnya yang berisikan lima pack.
Kemudian, plastik kresek merek Tiger berwarna merah dari harga Rp 60.000 menjadi Rp 93.000 per ikatnya.
Plastik merek Wayang dari harga Rp 18.000 menjadi Rp 30.000 per ikatnya saat ini.
Lalu, stirofoam dari Rp 26.000 menjadi Rp 30.000.
"Kalau thinwall naiknya sekitar Rp 1.000 aja, sama gelas plastik itu Rp 2.000," ungkap Ipang.
Dikomplain pembeliPedagang tersebut mengaku, semakin tercekik dengan kenaikan harga plastik setiap harinya.
Di sisi lain, ia juga sering sekali diprotes oleh para pembeli, karena dinilai harga jualnya sangat mahal.
Padahal, kata Ipang, para pedagang plastik terpaksa menaikkan harga karena modal berbelanjanya yang juga mahal.
Pedagang plastik lain, Nando (48), juga mengaku lelah selalu diprotes pembeli karena harga plastik yang semakin tak masuk akal.
"Capek diprotes pelanggan, dibilang kok naik mulu, jelasinnya capek banget," kata dia di lokasi yang sama, Senin.
Baca juga: Harga Plastik Naik, Pedagang Kaki Lima Terjepit: Untung Cuma Rp 500
Meski mendapat banyak protes dari pelanggan, ia mengaku tak bisa menyiasati agar harga plastik di tokonya tetap stabil.
Sebab, jika harganya dibuat stabil, maka para pedagang harus menombok, sehingga tak ada pilihan lagi selain menaikkan harga plastik.
Nando mengaku, keputusannya menaikkan harga plastik membuat banyak orang tak jadi membeli di tokonya.
Meski begitu, ia tak mau mengambil pusing dan menyuruh pembeli mencari plastik di toko lain jika memang harganya dinilai kemahalan.
"Kalau mau beli silakan, kalau enggak cari yang lain mana tahu ada toko yang baik hati mau kasih harga murah karena cari pelanggan," sambung Nando.
Nando mengatakan, kenaikan harga bukan hanya mencekik pembeli, tapi juga para pedagang.




