Bisnis.com, JAKARTA — PT Zurich Topas Life (Zurich Life) menilai obligasi tetap menjadi instrumen yang paling menarik bagi industri asuransi jiwa, khususnya untuk alokasi non-produk yang dikaitkan investasi (PAYDI).
Director Investment & Risk Management Zurich Life, Santy Gui menjelaskan obligasi pemerintah memiliki karakteristik likuiditas tinggi, imbal hasil menarik, serta mampu memenuhi kebutuhan aset dan liabilitas jangka panjang perusahaan.
“Oleh karena itu, Zurich Life lebih memfokuskan alokasi investasinya pada instrumen obligasi, khususnya obligasi pemerintah,” katanya kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (7/4/2026).
Santy meneruskan, perusahaannya juga menempatkan investasi di instrumen saham dengan terbatas dan sesuai prinsip kehati-hatian, serta penyesuaian aset terhadap liabilitas.
“Fokus utama tetap pada instrumen yang stabil dan tinggi likuiditas,” sebutnya.
Dia menyampaikan sepanjang 2025, hasil investasi Zurich Life menunjukkan tren yang positif dan stabil. Pasalnya, portofolio investasi masih didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah yang menawarkan stabilitas imbal hasil sekaligus menjaga risiko investasi.
Baca Juga
- Ujian Ketahanan Pasar Obligasi RI: Tertekan Risiko Inflasi hingga Peringkat Utang Negara
- Obligasi Korporasi Banjiri Pasar Rp50,87 Triliun, Aksi Right Issue Rp3,75 Triliun
- Obligasi dan Sukuk Raharja Energi Cepu (RATU) Oversubscribed Himpun Permintaan Rp5,46 Triliun
Pendekatan tersebut, imbuhnya, sejalan dengan tujuan pihaknya untuk menjaga keberlanjutan sekaligus keamanan dana nasabah.
Adapun, kata Santy, strategi pengelolaan investasi non-PAYDI Zurich Life pada 2026 menitikberatkan pada penerapan asset liability management atau mengutamakan investasi pada instrumen yang stabil dan memiliki likuiditas tinggi seperti surat berharga pemerintah.
“Ke depannya, kami tetap membuka peluang untuk diversifikasi ke instrumen lain yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko yang terukur, mengikuti dinamika dan perkembangan pasar yang ada,” tegasnya.
Untuk diketahui, AAJI mencatat hasil investasi industri asuransi jiwa sepanjang 2025 naik signifikan sebesar 103,1% (year on year/YoY) menjadi 47,32 triliun. Zurich Life menilai pertumbuhan itu didukung oleh penerimaan premi yang stabil, kondisi makroekonomi yang membaik, dan peningkatan kepercayaan investor terhadap pasar finansial Indonesia menjadi penopang utama kinerja investasi.
“Selain itu, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan [IHSG] sebesar 22,13% dan kenaikan indeks obligasi pemerintah sebesar 12,43% sepanjang 2025 mencerminkan sentimen investor yang positif dan turut berkontribusi signifikan terhadap hasil investasi industri,” jelas Santy.
Lebih jauh, Santy berpendapat bahwa pendapatan premi dan hasil investasi adalah dua pilar penting bagi perusahaan. Premi merupakan sumber pendapatan utama sehingga upaya peningkatan premi tetap menjadi prioritas.
Di sisi lain, lanjutnya, investasi berperan penting untuk memastikan kesesuaian aset dan liabilitas, serta menopang pendapatan perusahaan dan kemampuan memenuhi kewajiban kepada nasabah.
“Kami menjaga kedua aspek ini secara seimbang agar pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis tetap terjaga," tutupnya.





