Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah mengusulkan agar penyaluran subsidi LPG 3 kilogram dilakukan secara lebih tepat sasaran dengan mekanisme verifikasi berbasis biometrik, seperti sidik jari atau retina mata. Hal ini dinilai penting untuk memastikan subsidi benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak.
Menurut Said, Banggar DPR RI tidak setuju dengan wacana pengurangan subsidi BBM. Sebaliknya, yang perlu dilakukan adalah memperbaiki ketepatan sasaran subsidi LPG 3 kilogram.
“Kalau subsidi BBM dikurangi kami nggak setuju. Yang diperlukan justru adalah subsidi LPG 3 kilogram itu harus tepat sasaran, targeted,” kata Said, Selasa (7/4).
Ia menjelaskan, selama ini pemerintah memang telah memiliki data sosial ekonomi nasional (SEN), namun hal tersebut dinilai belum cukup. Menurutnya, diperlukan verifikasi berulang melalui sistem biometrik agar distribusi LPG subsidi tidak meleset.
Dari perhitungan Banggar, kata Said, jumlah penerima LPG subsidi sebenarnya dapat ditekan jika distribusinya tepat sasaran.
"Karena hitungan kami dari 8,6 juta kalau mau tepat sasaran, targeted, tidak sia-sia menghambur-hamburkan anggaran LPG 3 kilo tabung 3 kilogram itu hanya 5,4 juta cukup dari 8,6 yang ada di pagu," ucap politikus PDIP itu.
Terkait beban fiskal akibat kenaikan harga energi global, Said menilai hal tersebut merupakan kondisi yang tidak bisa dihindari. Namun, ia mempertanyakan kebijakan yang justru menyasar subsidi bagi masyarakat kecil.
“Kenapa kita mengotak-atik subsidi, kenapa kita tidak bicara terhadap harga non-subsidi yang sampai sekarang belum naik," katanya.
Ia menegaskan bahwa kebijakan harus mempertimbangkan dampak inflasi secara menyeluruh.
"Kenapa yang untuk orang miskin yang diotak-atik. Jangan dong. Kalau mau diotak-atik yang sudah dijual di pasar yang harga keekonomian. Itu lebih make sense," kata Said.
Said juga mengingatkan agar pemerintah tidak bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi harga minyak dunia.
"Jadi kita lagi berhitung betul, kasih kesempatan lah jangan kemudian BBM begitu harga minyak naik kita kayak kebakaran jenggot seakan-akan besok langit akan runtuh," tutupnya.





