Pemerintah Iran dikabarkan sedang memulihkan bunker misil hingga dapat dioperasikan kembali. Hal tersebut dilakukan dalam hitungan jam setelah bunker tersebut diserang oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dilansir dari Daily Mail, salah satu bunker yang dimaksud adalah basis misil Yazd yang memiliki sistem rel otomatis. Adapun rel tersebut menghubungkan area perkumpulan, tempat penyimpanan dan beberapa jalan keluar tersembunyi.
"Laporan intelijen Amerika Serikat yang dikabarkan New York Times mengindikasikan Iran masih memiliki persenjataan substantif dan dengan cepat memperbaiki lokasi penyimpanan senjata yang diserang," seperti tertulis dalam Daily Mail yang dikutip Selasa (7/4).
Beberapa bunker senjata yang diserang Negeri Abang Sam dan Israel ada di dalam pegunungan granit. Dengan demikian, bunker tersebut dapat menahan senjata anti-bunker yang ada, salah satunya GBU-57 Massive Ordnance Penetrator.
Presiden Amerika Serikat Donald J Trump mencatat Amerika menyerang lebih dari 13.000 target sejak akhir Februari 2026. Walau demikian, laporan New York Times menyebutkan pemerintah AS belum memiliki angka pasti berapa peluncur misil yang telah dihancurkan di Iran.
Laporan New York Times menyebutkan peluncur misil Iran bisa dengan cepat dipulihkan dari puing-puing basis militer untuk kembali digunakan. Beberapa lokasi penyimpanan misil bawah tanah dibangun di dalam gunung.
Pemerintah Iran telah membangun penyimpanan senjata di dalam pegunungan selama bertahun-tahun agar bisa terlindung dari serangan udara. Analis Shanaka Anslem Perera mengatakan gunung tidak peduli berapa banyak serangan udara diluncurkan.
"Sistem rel di dalam lokasi penyimpanan senjata Iran tidak memperdulikan berapa banyak jalan keluar yang ditutup. Pertahanan Iran adalah geologi, dan geologi Iran telah ada selama 300 juta tahun," kata Perera.
Seperti diketahui, batu granit menyerap dan menyebarkan energi ledakan misil dari Amerika Serikat dan Israel. Alhasil, jenis batuan tersebut mengurangi efektivitas senjata dengan energi paling besar.
Berdasarkan Royal United Services Institute atau RUSI, butuh beberapa serangan di titik yang sama untuk menembus fasilitas bawah tanah Iran. Selain itu, tentara Amerika Serikat dan Israel membutuhkan tata letak internal yang detail dan serangan lanjutan untuk mencegah perbaikan cepat oleh pihak Iran.




