KEPALA organisasi intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Majid Khademi, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Senin (6/4), menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang terus memanas di kawasan.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut bahwa Majid Khademi, yang merupakan figur kunci dalam struktur intelijen Iran, tewas akibat serangan udara tersebut.
Khademi diketahui baru menjabat sebagai kepala intelijen IRGC sejak 2025, menggantikan pendahulunya yang juga tewas dalam serangan Israel.
Baca juga : Kronologi Serangan IRGC ke Tanker AS & Penutupan Selat Hormuz Maret 2026
Selama kariernya, Khademi telah menghabiskan puluhan tahun di bidang intelijen dan kontra-spionase, serta dikenal sebagai salah satu tokoh berpengaruh dalam aparat keamanan Iran.
Sebelum menduduki posisi puncak, ia memimpin Organisasi Perlindungan Intelijen Garda Revolusi yang berfokus pada pengawasan internal dan operasi kontra-intelijen. Dia juga pernah memegang peran penting di Kementerian Pertahanan Iran.
Organisasi intelijen IRGC sendiri merupakan salah satu institusi keamanan paling berpengaruh di Iran. Lembaga ini memiliki peran strategis dalam pengawasan domestik serta menghadapi ancaman pengaruh asing, dan kerap beroperasi secara paralel dengan kementerian intelijen sipil.
Baca juga : Selat Hormuz Membara: IRGC Serang Tanker AS, Pasokan Energi Dunia Terancam
Insiden ini bukan yang pertama menargetkan pucuk pimpinan intelijen IRGC. Pada 2025, serangan Israel juga menewaskan kepala intelijen IRGC saat itu, Mohammad Kazemi, bersama dua perwira tinggi lainnya.
"Tiga jenderal intelijen yakni Mohammed Kazemi, Hassan Mohaghegh, dan Mohseb Bagheri dibunuh dan gugur sebagai martir," demikian pernyataan IRGC dikutip CNN, Selasa (7/4).
Kematian para pejabat tinggi tersebut turut diumumkan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam wawancaranya dengan media Amerika Serikat, Fox News. (H-3)





