KEPALA Pusat Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Rahmawati, mengatakan terdapat total 13 pelanggaran dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik atau TKA 2026 yang dilakukan oleh pengawas maupun siswa.
“Pelanggaran itu untuk pengawas 12 orang dan siswa 1 orang. Kami menemukan ada yang live di media sosial. Tapi beda dengan jenjang SMA, ketika sedang live dia tidak menunjuk ke layar komputer tapi eksis saja sedang mengawas dan lainnya tapi tidak menunjukkan soal dan mem-foto,” ungkapnya dalam taklimat media pelaksanaan TKA di Bekasi, Selasa (7/4).
Lebih lanjut, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menambahkan bahwa pihaknya selalu mencatat semua peristiwa yang ada di setiap kelas, sehingga setiap pelanggaran baik itu ringan, sedang, dan berat akan ditindaklanjuti sesuai dari berita acara yang disampaikan setiap ruang kelas ujian.
Baca juga : TKA harus Jadi Alat Perbaikan Kualitas, Bukan Beban Baru buat Siswa
“Untuk siswa juga sama, ada leveling kita lihat nanti pelanggarannya seperti apa, seperti yang nanti disampaikan dalam berita acara setiap ruang kelas dan tentunya kami ketika ada pelanggaran-pelanggaran yang nantinya akan diputuskan, itu diperlibatkan inspektorat jeneral untuk menganalisis, mengkaji, dan memutuskan pelanggaran apa yang diberikan. Ya sesuai dengan SOP kami, tergantung permasalahannya apa ya, seberat apa,” tegas Toni.
Dia pun memaparkan beberapa jenis pelanggaran yang dilakukan dalam pelaksanaan TKA tersebut.
“Yang sekarang terjadi di hari 1 dan 2 paling ada yang merokok, ada yang membuat video, tapi untuk dirinya sendiri, bukan untuk melihat soal dan saya kira pelaksanaan TKA yang lalu menjadi pelajaran ya buat semua pihak, sehingga kemungkinan minimum pelanggaran sekarang itu karena belajar dari yang tahun lalu,” tuturnya.
Toni juga menyoroti fakta di lapangan yang menemukan masih banyak siswa yang mengeluhkan soal yang sulit, terutama matematika.
“Kami sangat memahami sebagian siswa menyampaikan hal tersebut. Tapi TKA ini dirancang bukan sekadar menguji hafalan tapi mengukur kemampuan berpikir dan penalaran. Sehingga wajar bagi sebagian siswa menyampaikan tingkat kesulitan dari soal matematika. Jadi soal TKA ini tidak dibuat untuk menjebak tapi mengungkap kemampuan berpikir siswa yang mendalam,” ujar Toni. (H-4)





