Penulis: Margolaras
TVRINews, Yogyakarta
Singkong merupakan salah satu komoditas pangan hasil pertanian yang masih diminati masyarakat. Umbi-umbian ini kerap diolah sebagai makanan suguhan, baik direbus maupun digoreng, dan menjadi teman minum teh bersama camilan lainnya.
Seiring perkembangan zaman, khususnya di bidang kuliner, singkong kini juga dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk makanan olahan. Mulai dari makanan tradisional hingga kuliner kekinian, inovasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai jual singkong.
Di Dusun Watugedug, Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, sejumlah warga mengembangkan usaha olahan singkong berupa tape singkong. Usaha yang telah dirintis sejak 1986 ini mampu bertahan hingga kini dan menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarga.
Tape singkong ini dibuat dari jenis singkong kuning atau dikenal sebagai singkong mentega. Proses pengolahannya melalui tahap perebusan dan peragian yang memerlukan waktu sekitar empat hari.
Salah satu perajin, Samsudin, menjelaskan bahwa singkong mentega menjadi bahan terbaik untuk menghasilkan tape berkualitas.
“Yang paling baik itu telo mentega. Kalau singkong putih biasanya lebih lembek. Penjualannya per kilo, mulai seperempat kilo hingga satu kilo. Harganya sekitar Rp10 ribu per kilogram,” kata Samsudin kepada tvrinews.com, Selasa, 7 April 2026.
Dalam satu kali produksi, perajin membutuhkan sekitar 70 kilogram singkong mentega. Bahan baku tersebut didatangkan dari berbagai daerah di luar Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti Klaten, Karanganyar, dan Boyolali.
Hasil produksi tape singkong dipasarkan ke pelanggan di pasar tradisional, serta dipasok kepada penjual es tape dan produsen roti berbahan tape.
Tape singkong buatan warga Watugedug ini dikenal memiliki cita rasa manis dan tekstur lembut, sehingga cocok dikonsumsi sebagai camilan maupun bahan minuman.
Saat ini, terdapat tujuh perajin tape singkong yang masih aktif berproduksi di Dusun Watugedug, Guwosari, Pajangan, Bantul.
Sementara itu, Dukuh setempat, Mistijan, berharap adanya dukungan dari pemerintah untuk memperluas pemasaran.
“Pemerintah dan dinas terkait diharapkan bisa membantu pemasaran, karena saat ini penjualan masih terbatas di pasar-pasar tradisional sekitar wilayah Nogosari. Dalam satu padukuhan terdapat tujuh lokasi produksi tape singkong,” tuturnya.
Editor: Redaksi TVRINews





