Jumlah Penerima Manfaat Masjid Ramah Pemudik Naik 122 persen Dibanding 2025

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Jumlah penerima manfaat Masjid Ramah Pemudik (MRP) pada arus mudik dan balik Lebaran 1447 H/2026 M mengalami peningkatan.

Kementerian Agama mencatat jumlah pemudik yang singgah di masjid mencapai 3.592.348 orang, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2025 yang tercatat sebanyak 1.617.641 orang.

BACA JUGA: Survei KedaiKOPI: 88,8% Masyarakat Puas Penyelenggaraan Angkutan Mudik Lebaran

Jumlah ini belum termasuk pemudik yang memanfaatkan vihara, gereja, dan rumah ibadah berbagai agama yang juga ikut memberikan layanan ramah pemudik pada libur lebaran.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengatakan, kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan berbasis rumah ibadah di jalur mudik.

BACA JUGA: Lebih dari 3,5 Juta Umat Manfaatkan Layanan Masjid Ramah Pemudik 2026

Ini juga tidak terlepas dari sosialisasi yang dilakukan sehingga masyarakat semakin memahami keberadaan Masjid Ramah Pemudik.

“Terjadi kenaikan sekitar 122 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa masjid semakin dipercaya sebagai tempat singgah yang aman, nyaman, dan terbuka bagi para pemudik,” ujar Arsad di Jakarta, Senin (6/4).

BACA JUGA: 3 Masjid Darurat Dibangun di Gaza untuk Fasilitasi Ibadah Warga

Dia menjelaskan, peningkatan jumlah pengunjung tidak terlepas dari kesiapan layanan yang semakin baik di lapangan. Ribuan masjid yang terlibat telah disiapkan dengan fasilitas dasar yang memadai serta didukung oleh pengurus dan relawan.

Menurut Arsad, pada 2026 Kementerian Agama menyiapkan 6.859 masjid yang tersebar di berbagai wilayah strategis, terutama di jalur utama seperti Pantura, Trans Jawa, dan Trans Sumatera.

Seluruh masjid tersebut beroperasi selama 24 jam sejak H-9 hingga H+7 Idulfitri. Sementara pada 2025, program ini melibatkan 8.710 masjid dengan jumlah pengunjung sekitar 1,6 juta orang.

Arsad melihat ada peningkatan signifikan dari sisi pemanfaatan seiring kualitas layanan masjid di jalur mudik yang makin optimal.

“Tingkat pemanfaatannya yang meningkat tajam. Ini menandakan layanan yang diberikan semakin tepat sasaran dan dibutuhkan oleh masyarakat,” jelasnya.

Arsad menuturkan, mayoritas pemudik yang memanfaatkan layanan MRP berasal dari pengguna kendaraan pribadi, terutama sepeda motor dan mobil. Hal ini sejalan dengan karakter arus mudik di Indonesia yang didominasi perjalanan darat jarak jauh.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang seperti tempat istirahat, air minum, toilet bersih, hingga layanan pengisian daya gawai.

Kehadiran fasilitas ini dinilai membantu pemudik menjaga kondisi fisik selama perjalanan.

Dia juga mengungkapkan tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan yang diberikan. Berdasarkan evaluasi, hampir seluruh responden menyatakan fasilitas utama seperti tempat salat, kebersihan, dan keamanan sudah terpenuhi dengan baik.

“Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pelayanan umat. Di sinilah nilai kemanusiaan, kepedulian, dan kebersamaan hadir secara nyata,” kata Arsad.

Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa angka 3,5 juta pemudik tersebut merupakan hasil rekapitulasi dari masjid yang terdata dalam program MRP. Secara faktual di lapangan, jumlah pemanfaatannya diperkirakan lebih besar.

“Data ini masih bersifat agregat dari masjid yang terlaporkan dalam sistem. Di luar itu, masih ada masjid-masjid di rest area jalan tol yang juga melayani pemudik dalam jumlah besar dan belum seluruhnya terhimpun dalam data ini,” ujar Arsad.

Menurut Arsad, keberadaan masjid di rest area tol memiliki kontribusi penting dalam mendukung kenyamanan pemudik, terutama pada jalur-jalur dengan intensitas lalu lintas tinggi.

“Kami melihat layanan di rest area juga sangat tinggi pemanfaatannya. Oleh karena itu, jika seluruhnya terdata, angkanya sangat mungkin lebih besar dari yang saat ini tercatat,” tambahnya.

Dia mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam menyukseskan program ini, mulai dari pengurus masjid, penyuluh agama, KUA, hingga masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam menghadirkan layanan yang optimal.

“Kami berharap tren positif ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. Program Masjid Ramah Pemudik diharapkan tidak hanya hadir saat musim mudik, tetapi menjadi model pelayanan berkelanjutan berbasis rumah ibadah di tengah masyarakat,” tandasnya. (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BNN Khawatir Dilemahkan Lewat RUU Narkotika
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Serba-serbi ASN DKI WFH Tiap Jumat tapi Ada Syaratnya
• 2 jam laludetik.com
thumb
Baru Selesai Dibangun, Jalan Kedaleman Amblas Diduga Akibat Pembangunan Koperasi Merah Putih
• 6 jam lalurealita.co
thumb
Barito Putera Mau Fokus Hadapi PSS Sleman, Laga Krusial Penentu Promosi
• 5 jam laluharianfajar
thumb
2 Anggota TNI Diduga Terlibat Penyalahgunaan BBM Subsidi di Jabar-Jateng
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.