Godzilla El Nino Diprediksi Picu Kekeringan

eranasional.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Fenomena El Nino kembali menjadi perhatian serius setelah para ahli memperingatkan potensi kemunculan fase ekstrem yang kerap dijuluki sebagai “Godzilla El Nino”. Guru Besar Agroklimatologi dari Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan siklus alami dalam sistem iklim global, namun dampaknya kini semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim yang terus berlangsung.

Menurut Bayu, El Nino pada dasarnya adalah anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang menyebabkan perubahan pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Dalam kondisi normal, fenomena ini terjadi secara berkala dan dapat diantisipasi. Namun, dengan adanya perubahan iklim global, intensitas dan frekuensinya menjadi lebih dinamis, sehingga meningkatkan risiko terjadinya cuaca ekstrem.

Ia menjelaskan bahwa ketika El Nino mencapai fase sangat kuat atau ekstrem, dampaknya akan langsung terasa pada sektor pertanian. Kekeringan berkepanjangan menjadi salah satu ancaman utama, terutama di wilayah tropis yang sangat bergantung pada curah hujan. Kondisi ini dapat mengganggu siklus tanam, menurunkan produktivitas lahan, hingga memicu gagal panen dalam skala luas.

Dalam konteks Indonesia sebagai negara agraris, situasi ini tentu menjadi perhatian serius. Bayu menekankan bahwa sektor pertanian merupakan salah satu sektor paling rentan terhadap perubahan iklim. Tanaman pangan seperti padi dan jagung yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar menjadi yang paling terdampak ketika terjadi penurunan curah hujan secara drastis.

Untuk menghadapi potensi risiko tersebut, Bayu menyoroti pentingnya ketersediaan informasi cuaca yang akurat dan mudah diakses hingga ke tingkat petani. Ia menilai bahwa informasi yang detail, bahkan hingga skala desa, dapat membantu petani dalam menentukan waktu tanam yang tepat, memilih jenis komoditas yang sesuai, serta mengatur pola budidaya secara lebih efektif.

Menurutnya, selama ini salah satu tantangan utama dalam menghadapi cuaca ekstrem adalah keterbatasan akses informasi di tingkat lapangan. Banyak petani yang masih mengandalkan pengalaman tradisional tanpa didukung data cuaca yang memadai. Dalam kondisi iklim yang semakin tidak menentu, pendekatan tersebut dinilai tidak lagi cukup.

Selain informasi cuaca, Bayu juga menekankan pentingnya penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan. Ia menyebut bahwa berbagai varietas unggul sebenarnya telah dikembangkan oleh para peneliti, namun pemanfaatannya di lapangan masih perlu ditingkatkan. Dengan menggunakan varietas yang lebih adaptif, risiko penurunan produksi dapat ditekan meskipun kondisi lingkungan tidak ideal.

Ia menambahkan bahwa inovasi teknologi juga menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. Sistem irigasi hemat air, teknik pompanisasi, serta pengelolaan air berbasis teknologi dapat membantu menjaga ketersediaan air di tengah penurunan curah hujan. Namun, keberhasilan penerapan teknologi tersebut sangat bergantung pada pendampingan yang intensif kepada petani.

Dalam hal ini, peran penyuluh pertanian menjadi sangat penting. Penyuluh tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah, hasil penelitian, dan praktik di lapangan. Dengan komunikasi yang baik antara penyuluh dan petani, proses adaptasi terhadap perubahan iklim dapat berjalan lebih efektif.

Bayu juga mengingatkan bahwa upaya mitigasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan pendekatan yang terintegrasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku sektor pertanian. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan inovasi yang dihasilkan benar-benar dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi petani.

Sementara itu, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional juga telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi dampak El Nino. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa berbagai upaya telah dilakukan, termasuk penyiapan dan distribusi pupuk serta peningkatan luas tanam.

Ia menjelaskan bahwa langkah-langkah tersebut telah dimulai sejak beberapa bulan terakhir sebagai bagian dari strategi mitigasi. Pemerintah berupaya memastikan bahwa produksi pangan tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan cuaca ekstrem. Selain itu, koordinasi antarinstansi juga terus diperkuat untuk memastikan kesiapan dalam menghadapi berbagai skenario.

Ketut menambahkan bahwa pengalaman menghadapi El Nino pada periode 2023–2024 menjadi bekal penting bagi pemerintah dalam menyusun strategi tahun ini. Dari pengalaman tersebut, pemerintah belajar untuk lebih responsif dan proaktif dalam mengantisipasi dampak yang mungkin timbul.

Namun demikian, ia mengakui bahwa tantangan ke depan tidaklah ringan. Perubahan iklim global membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi, sehingga diperlukan kesiapsiagaan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas di berbagai sektor, termasuk pertanian, untuk menghadapi kondisi tersebut.

Di tengah ancaman yang ada, para ahli sepakat bahwa adaptasi menjadi kunci utama. Tidak hanya bagi petani, tetapi juga bagi seluruh sistem pangan nasional. Dengan strategi yang tepat, dampak El Nino ekstrem dapat diminimalkan sehingga tidak sampai mengganggu ketahanan pangan secara signifikan.

Fenomena “Godzilla El Nino” memang menjadi peringatan serius bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Namun dengan kombinasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan yang tepat, serta keterlibatan aktif masyarakat, risiko yang ditimbulkan dapat dikelola dengan lebih baik.

Ke depan, penting bagi semua pihak untuk terus meningkatkan kesadaran terhadap perubahan iklim dan dampaknya. Dengan demikian, langkah-langkah adaptasi tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menurut CEO LinkedIn, Ini Skill
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
Trump Ancam Pidana ke Jurnalis yang Memberitakan Keamanan Nasional
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
Didesak Tarik Pasukan dari Lebanon, Pemerintah Masih Fokus Investigasi
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PKH Tahap II 2026 Cair Lebih Cepat? Ini Jadwal, Besaran Bantuan, dan Cara Cek Penerima
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Kepala BGN Ungkap Alasan Sepeda Motor Operasional SPPG Belum Dibagikan
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.