PBB terus menginvestigasi kasus tewasnya 3 prajurit TNI kontingen UNIFIL yang tewas dalam 2 insiden terpisah di Lebanon, akhir Maret lalu. Pada perkembangan terkini, investigator PBB mendapat indikasi kuat tembakan Tank Israel dan peledak (IED) Hizbullah jadi pemicu tewasnya 3 prajurit itu.
"Kita sudah minta kepada para pihak, agar kasus ini diselidiki dan diputus oleh otoritas nasional masing-masing, dan membawa para pelaku pengadilan untuk mendapat hukuman akibat aksi kriminal mereka terhadap pasukan perdamaian," kata Stephane Dujarric, jubir Sekjen PBB, dilansir AFP, Selasa (7/4).
Dua insiden itu terjadi dalam dua hari berturut‑turut: Praka Farizal Rhomadhon tewas setelah terkena tembakan artileri pada Minggu (29/3) di Adchit El Qousair, sedangkan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan tewas keesokan harinya setelah ledakan mengenai konvoi mereka di Bani Hayyan.
Setelah disemayamkan beberapa hari di Lebanon, tiga jenazah diterbangkan dari Turki ke Indonesia dan tiba di Bandara Soekarno–Hatta, Tangerang, pada 4 April 2026, disambut dengan penghormatan militer.
Mereka juga mendapatkan santunan sebesar Rp 1,8 miliar untuk keluarganya, kenaikan pangkat 1 tingkat lebih tinggi, dan penghargaan berupa Dag Hammarskjöld Medal, medali dari PBB bagi personel perdamaian yang gugur saat bertugas.
Para prajurit ini dimakamkan di kampung halamannya masing-masing.
Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung. Serka (Anm) M. Nur Ichwan dimakamkan di TMP Giri Dharmoloyo, Magelang. Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon dimakamkan di TMP Giripeni, Kulon Progo.





