Oleh : Parid Ridwanuddin; Anggota Bidang Kajian Politik Sumber Daya Alam, Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik, PP Muhammadiyah
REPUBLIKA.CO.ID,Dalam sebuah studi yang dipublikasi oleh The Guardian, serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran dalam dua pekan pertama, tercatat telah menghasilkan emisi yang sangat besar. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, yaitu mencapai 5.055.016 ton CO2 atau setara dengan total emisi 84 negara yang tingkat emisinya rendah.
Jika perang ini diteruskan dalam satu tahun ke depan, maka para ilmuwan mengkalkulasi total emisi akan mencapai 131.430.416 ton CO2. Jumlah emisi tersebut sungguh tidak dapat dikatakan kecil. Secara historis, emisi AS dicatat paling besar di dunia. Berdasarkan data yang dipublikasi Our World in Data, sejak tahun 1751 sampai tahun 2017 saja, AS telah memproduksi emisi sebanyak 399 miliar ton atau setara 25 persen emisi global. Berdasarkan hal tersebut, The New York Times menyebut AS sebagai the Biggest Carbon Polluter in History.
- Ratusan Usaha Sarang Burung Walet Ilegal di Lhokseumawe Disegel Petugas
- Harga Serba Mahal, Chef Bagikan Cara Masak Hemat dan Bergizi
- WFH Jumat, tak Menyentuh Akar Masalah
Dengan ledakan emisi yang terus membesar, dapat diestimasi bahwa pada tahun-tahun mendatang bumi kita akan semakin panas. Pemicunya tak lain adalah emisi yang dihasilkan dari beragam mesin perang yang senantiasa dinyalakan oleh energi fosil. Amerika Serikat (AS) dan juga Israel patut mendapat kecaman dunia internasional karena mereka telah memulai peperangan ini.
Di dalam berbagai forum internasional, seperti COP (Conference of the Parties) ke-31 atau konferensi tahunan PBB tertinggi untuk membahas kebijakan perubahan iklim yang akan diselenggarakan di Antalya, Turki, perlu disepakati bahwa perang yang dilakukan oleh AS dan Israel merupakan kejahatan iklim, karena akan membawa bumi menuju kiamat iklim akibat emisi yang mereka keluarkan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Emisi besar yang dihasilkan dari perang akan memperburuk situasi bumi. Lembaga Meteorologi Dunia (2026), menegaskan bahwa sejak 2015 hingga 2025 tercatat sebagai 11 tahun terpanas dalam catatan sejarah umat manusia.
Perang yang terjadi saat ini bukan hanya peristiwa regional di kawasan Asia Barat, tetapi gambaran sebenarnya dari wajah peradaban manusia terkini, di mana perang ini akan terus memicu bencana demi bencana yang harus ditanggung oleh kelompok masyarakat yang tidak bersalah.
Di belahan dunia lain, berbagai komunitas yang tidak memiliki kontribusi signifikan, terus terdampak oleh krisis iklim. Jutaan orang berjuang untuk mempertahankan rumahnya dari ancaman kenaikan laut. Di Indonesia, puluhan juta orang harus mengungsi akibat cuaca ekstrem yang memicu banjir dan longsor.
Lalu, jutaan nelayan tetap terpaksa berangkat melaut di tengah cuaca ekstrem karena tidak punya pilihan lain. Tak sedikit dari mereka meninggal di tengah laut demi tugas mulia, yaitu menafkahi keluarga dengan cara yang halal. Sementara itu nelayan di beberapa wilayah terpaksa menjauhi laut karena cuaca ekstrem membahayakan mereka.




