Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bank pelat merah seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) telah memberikan sinyal bahwa pembagian dividen tahun buku 2025 berpotensi lebih besar dibandingkan tahun lalu.
Kendati demikian, kebijakan pembagian dividen akan diputuskan bersama pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), mempertimbangkan kinerja perseroan, kebutuhan permodalan, serta kondisi pasar secara menyeluruh.
Sebagai catatan, BBRI membagikan dividen sebesar Rp51,74 triliun atau Rp343,40 per saham untuk tahun buku 2024. Jumlah tersebut setara dengan 85,32% dari laba bersih perseroan yang mencapai Rp60,64 triliun.
Sementara itu, untuk tahun buku 2024, BMRI memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 78% dari laba bersih tahun lalu yang senilai Rp55,78 triliun. Dengan demikian, tebaran dividen Bank Mandiri senilai Rp43,51 triliun atau Rp466,18 per saham.
Di tengah dinamika dan ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan, Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan bahwa perseroan tetap fokus menjaga kinerja secara berkelanjutan melalui penguatan fundamental bisnis.
“Strategi utama kami adalah memastikan pertumbuhan kredit yang berkualitas, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent banking),” kata Dhanny kepada Bisnis, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga
- Masuk Rekening Hari Ini (8/4), BCA (BBCA) Tebar Dividen Tunai Rp41,3 Triliun
- Injeksi Perbankan yang Salah Sasaran
- OJK Rancang Aturan Baru Rencana Bisnis Bank, Ini Bocorannya
Dari sisi pendanaan, dia menuturkan bahwa BRI terus mendorong pertumbuhan dana murah (Current Account Savings Account/CASA) melalui penguatan ekosistem transaksi berbasis digital. Dia menilai, hal ini penting untuk menjaga efisiensi biaya dana (cost of fund) sehingga dapat menopang profitabilitas perseroan di tengah tekanan pasar.
Tidak hanya itu, perseroan juga terus menciptakan sumber pertumbuhan baru. Di antaranya ekspansi bisnis konsumer melalui penguatan KPR, kredit kendaraan, optimalisasi payroll, hingga penguatan layanan wealth management serta penguatan bisnis bullion bank.
Bank dengan kode emiten BBRI itu juga secara konsisten memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas aset, serta meningkatkan efisiensi operasional melalui transformasi digital yang berkelanjutan.
Dengan langkah-langkah tersebut, pihaknya meyakini bahwa BRI dapat menjaga kinerja tetap resilien dan sesuai dengan ekspektasi, sekaligus memberikan nilai tambah yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan.
Sementara itu, Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan bahwa pihaknya secara konsisten menerapkan prinsip pertumbuhan yang seimbang antara ekspansi dan kehati-hatian.
“Hal itu dilakukan dengan mengarahkan penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif yang memiliki prospek dan ketahanan yang kuat serta berdampak positif pada ekonomi kerakyatan,” ungkap Adhika kepada Bisnis, Selasa (7/4/2026).
Adapun hingga Februari 2026, Bank Mandiri membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 16,7% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp8,9 triliun.
Raihan laba bersih pada periode tersebut ditopang oleh penyaluran kredit sebesar Rp1.513,1 triliun yang tumbuh 15,7% YoY, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) Rp1.644,8 triliun naik 16,3% YoY, serta kualitas aset yang terjaga dengan NPL di level 0,98% dan coverage ratio sebesar 246,5%.
“Bank Mandiri juga terus memperkuat akselerasi layanan digital dan efisiensi operasional guna memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan,” tuturnya.
Tren Dividen Jumbo akan Berlanjut?Di tengah kondisi saat ini, Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan melihat bank kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam menentukan besaran dividen.
“Bila memang masih lebih tinggi, hal tersebut dapat menjadi stimulus bagi para investor bank,” kata Trioksa kepada Bisnis, Selasa (7/4/2026).
Di sisi lain, Trioksa menyebut bahwa tren pembagian dividen jumbo tidak akan berlangsung terus-menerus. Sebab, kata dia, besaran dividen akan menyesuaikan dengan kondisi ekonomi dan pasar ke depan.
Karena itu, menurutnya bank perlu fokus menjaga kinerja bisnisnya seperti memastikan kredit tetap berkualitas, menekan biaya dana, melakukan efisiensi operasional, serta menjaga likuiditas agar tetap kuat.
Sementara itu, Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan di LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai bahwa keberlanjutan tren dividen jumbo ke depan masih sangat bergantung pada kondisi penyaluran kredit.
“Agak sulit diprediksi karena masih banyak ketidakpastian,” ujar Teuku Riefky.





